Selasa, 29 Oktober 2019

Renjana


Aku berpikir tentang musim panas, waktu yang indah-indah. Saat yang tepat untuk mengatakan aku mencintaimu. Namun musim panas akan segera berakhir. Mungkinkah harapan itu akan nyata? Tapi sepertinya aku akan mencintaimu di musim hujan. Waktu hari-hari gelap hampir datang setiap hari.

Aku berharap kamu akan bersabar. Aku berjanji akan mengubah segalanya. Jika itu hanya perbincangan antara kamu denganku. Aku hanya mencari waktu yang tepat, kapan aku harus mengataknnya. Di musim hujan nanti aku akan sedikit kesulitan.

Selalu aku harus menerka-nerka. Aku tidak bisa merasakan, jadi aku mencoba menyentuh. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, bukan untuk membodohimu. I did my best, but it wasn't much. And even though it all went wrong I'll stand before the Lord of Song.

Senin, 28 Oktober 2019

Hingga Kapan

Jam Pasir, Waktu, Jam, Telur Timer
Kita melalui waktu cukup lama
merasakan semua rasa
suka begitu juga duka
kita tak pernah tahu
sampai kapan ini bertahan.

Atau kita memerlukan waktu lagi?
Tapi untuk apa?
"Untuk mengenali diri sendiri"
katamu.

Waktu belalu begitu cepat
apa yang belum kita dapat
akankah itu sempat.

Love, only love can bring down the wall someday
I will be there, I will be there.


Cobalah percaya kasih, Still Loving You - Scorpions


Rabu, 23 Oktober 2019

Sekali Lagi Patah


Membayangkan semua akan berjalan indah
berakhir dengan juwita saksama
tapi tidak pada kenyataanya
layu sebelum berkembang.

Pupus lenyap, hilang pergi
terurai ke sana ke mari
seperti daun pohon jati
rela mati saat kemarau menghampiri.

Daun-daun kering rela berguguran
demi daun-daun hijau segar tumbuh
pengorbanan menciptkan perbedaan
mempersilakan hati mana yang akan berlabuh.


Selasa, 22 Oktober 2019

Setidaknya

Pemusik, Bermain, Gitar, Kesepian, Solo
Aku tidak pernah meragukan hatiku, seberapa keras ia dihantam sedih dan luka. Jika itu kenyataannya memang itulah sekian kecil tujuan hati diciptakan. Pun jika itu menyakitkan sekali, setidaknya aku tahu hatiku masih berfungsi sebagaimana mestinya.

Maka cintailah seseoraang dengan segenap hati, bahkan ketika itu sampai menghancurkan hatimu porak-poranda. Biarkan hati menjalakan sekian tugas kecil tujuannya diciptakan. Sedikit lagi. Hatimu akan tangguh dan tidak diragukan lagi kuatnya menahan luka dan kesedihan.

Sabtu, 19 Oktober 2019

Perangaimu

Danbo, Angka, Dipisahkan, Rindu, Disc
Aku meminta 24 jam dalam satu minggu
untuk menghabiskan waktuku bersamamu.
Kau memberikan waktu di akhir minggu
Agar menjadikannya setara
atas kemauanku dan kesediaanmu.

Kita menghabiskan setiap malam di hari Sabtu
untuk menjadikan semuanya baik-baik saja.
Menyenangkan melihat wanita sepertimu
Semua yang aku inginkan ada pada dirimu
memunculkan cinta lewat perangaimu.



Jumat, 18 Oktober 2019

Telepon

Menakjubkan bisa menyempatkan waktuku bertukar suara,  kabar, dan mungkin rindu denganmu. Malam ini kita ngobrol banyak hal dari harapan hingga ketidakjelasan. Namun, sekali lagi itu menakjubkan. Aku tak pernah seperti ini dengan wanita-wanita sebelum kamu. Rasanya jadi satu, senang karena bercengkerama dengan wanita pujaan was-was karena takut terdengar orang sekitar.

Menjengkelkan juga ketika beberapa kali harus mengatakan
"Halo? Putus-putus suaranya,"
Tapi itulah keunikan berkomunikasi jarak jauh. Kita tidak pernah tahu masalah-masalah apa yang akan terjadi. Menebak ekspresi-ekspresi yang kamu ucapkan, mengulang kata karena salah dengar. Juga percakapan yang terbatas waktu.

Menyempakan menelponmu di setiap minggu memang bikin candu. Tetapi dengan begitu akhirnya aku tahu fungsi dari teleponku.


Kamis, 17 Oktober 2019

Air tanpa Lumut



Lanskap, Danau, Matahari Terbenam
Aku bagaikan air di kolam tak terawat
ada sesuatu yang hilang sejak pertama.
Aku tidak pernah merasakan ancaman
kepada daun yang jatuh menimpaku
dan membusuk karena zat entah apa itu
atau bahkan pada ranting jatuh yang mencolok tajam.

Justru aku harus merawatnya sampai benar-benar membusuk
daun dan ranting dalam diriku tanpa terlewat satu pun
dengan langit yang setiap hari menyapa, namun
langit tetaplah langit ia tak perlu menunjukan
Kepada semua orang bahwa ia tinggi
terlebih denganku di bawah sini
yang sekarang melihatnya pun tak dapat penuh
karena terhalang rimbunan ranting daun pohon cempaka.

Sebagai air aku memahami, aku tidak berhak tentang apa saja
yang jatuh dan menghalangiku saat ini
aku senang masih ditemani dinginnya malam
dan panas terik di siang terang benderang,
Kini aku sudah tak peduli dari mana aku berasal
Dari gugusan awan hitam di atas sana ataukah
Sumber mata air dari jauh sana.

Aku tak ingin bertanya mengapa?
aku tumbuh di genangan tanpa lumut,
gerangan siapa yang menciptakanku sedetil ini?
kini tubuh bagai rasa penuh luka, tanpa cela.

Rabu, 16 Oktober 2019

Pintu



Blue Door, Lama, Model Tahun, Cat, Jalan perjumpaan kedua kali denganmu aku melihat pintu, terbuka lebar dan aku dipersilakan masuk melewatinya kapan saja.
Sepertinya
Aku tak perlu mengetuk
Aku tak perlu kunci
                Sungguh itu tidak perlu, ucapan selamat datang atau selamat tinggal,
                Kau hias sedemikian rupa agar menggoda dan tak lupa kau sediakan kursi kayu disebelahnya.
                Dari pagi hingga malam hari diberkahi begitu banyak gerbang supaya aku membuka dan menetap di sana.
                Duduk berdua di kursi warna cokelat muda, kita berdua memadu kasih seperti sepasang burung kakak tua.

Selasa, 15 Oktober 2019

Pada yang Aku Niatkan Semata


Gambar
Wahai segala malaikat
Yang ada di dunia atas,
dunia bawah
Dan di antara keduanya
yang ada di segala celah, segala ruang
Berkeliaran hilir-mudik ke sana ke mari
Memantau segala aktivitas kami.

Kami ingin terbebas
sehari saja
Dari kehidupan dunia yang keras
Kami ingin bebas melakukan kehendak
Kehendak yang terbatas bebas.

Hendak apa yang bisa kami buat
mengacaukan atau menutup rapat,
Sementara kau tak terbendung
pengelihatanmu tajam,
Catatanmu tak kurang
Sungguh ini menyiksa.

Hidup seperti di istana
Namun kami menjadi budak
Tak ada kebebasan yang hakiki
Jika tak punya materi.

/2/
Wahai makhluk Yang Mulia
Jangan membingungkan kami
Kami ingin hidup mandiri –
Meski itu tugasmu
Yang bagi kami semu
Kami terharu.

Tanpa dipaksa
Tanpa menyela
Tugasmu begitu mulia –
Wahai yang konon begitu setia
hampir semua dalam kekuasaanmu.

Itu bukan kekuasaan kami
kami hanya memohon
bukan kepada pohon –
kepada Yang Maha
kepada Sang kesatria,
berikan kami sabda.




Senin, 14 Oktober 2019

Terlintas Begitu Saja

Terperanjat begitu saja bayanganmu terlintas. Kamu yang dulu mengerti segala tetang hari-hariku. Penuh warna biru menumpuk gunung tinggi. Semua kenangan terlihat dari atas sini. Mengapa kau tiba-tiba datang di khayalku. Mengobrak-abrik yang ingin aku bangun setelah kepergiannmu. 

Bertahan cukup lama, malam ini aku terbuai masa lalu. Tapi bayanganmu yang melintas sedikit memberi bahagia namun penuh luka setelahnya. Enyahlah dari kepalaku malam ini. Aku ingin istirahat tenang malam ini. Kalau sampai tak habis waktuku dan rentetan mimpi, kenapa kau begitu nyata. 

Mungkinkah selama ini kau tak pernah benar-banar pergi?

Namun mengapa bisa bertahan selama ini. Setelah kita berdua tak memilki makna. Ini harus segera aku sadarkan. Dan kamu juga harus mengerti juga berjanji hanya malam ini saja kita bernostalgia di pikiranku. 

Aku rasa angin malam yang tak seberapa kencang cukup membawamu pergi di malam ini. Sudah kukatakan di awal aku ingin membangun cerita baru dengan orang yang aku anggap bisa lebih dari kamu meski tak semuannya. Dia yang sekarang di sampingku berjanji tak banyak namun bisa dipegang janjinya. Selamat Malam.

Minggu, 13 Oktober 2019

Meski Terluka

Tapi ini tak seberapa
Beberapa manusia
Rela mengorbakan semua
Apa pun yang dimilikinya.

Juga belum seberapa
Air mata, peluh bercucuran


Hidup penuh beban
Sedih sedu sedan.

Harus bertahan
Biar pun kewalahan
Biar pun kesakitan
Karena hidup akan padam.


Kamis, 10 Oktober 2019

Tidak Lama Lagi

Jam Saku, Waktu, Pasir, Jam, Jam Wajah
Aku tak bisa berpikir
Dalam kepalaku penuh kerikil
Menjadi batu ganjalan
Kini aku meringkih.

Apa mereka sadar?
Kondisiku kian tak segar
Apa perduli mereka,
Sedang hati sudah tak peka.

Rasanya takkan lama lagi
Mungkin terjadi malam ini
kerikil ini akan pecah
Keluar susah payah.

Mematikan metabolisme tubuhku
hancur hilang, belum dipegang
Tapi datangnya datang,
Aku hidup tak sampai siang.

Menerka

Aku suka mencoba
menduga apa rencanamu,
Oh, kasih kecilku.

Kita hampir muda bersama
Kau milikku,
Aku bersamamu.

Terkonsep seperti skema
berjalan sesuai agenda,
Tapi itu dulu.

Sedang sekarang berbeda
hanya tinggal wacana,
Hai, pujaanku.

Apa kita merasa hal sama
rindu di kala aksa?






Rabu, 09 Oktober 2019

Mengetuk Pintu Maafmu

Aku berharap bisa membagi waktuku. Memberikannya hanya padamu. Tapi kenyataannya salah, selama ini aku terlalu banyak tak acuhkanmu. Mungkin membuatmu bertanya-tanya sedang apa aku sekarang? Untuk itu, aku akan mengucap maaf meskipun ini terlambat. Itu pun jika kau mau mendengarnya. 

Membayangkan siapa yang menemanimu di setiap malam. Aku bodoh terlalu sibuk hingga tidak mempedulikan itu. Aku selalu berpikir kau tidak akan macam-macam. Ini seperti pikiran gila, jelas kau tidak akan memulai obrolan ke laki-laki lain. Namun di luar sana setiap laki-laki akan berusaha, berjuang keras saat aku tidak menghubungimu. Memanfaatkan segala momen untuk kesempatan kecil.

Sekarang, 8 Oktober dan aku baru menyadari betapa bodohnya aku ini. Aku melihat fotomu di beranda Instagram. Jelas hal yang sia-sia atau untuk apa? Tapi aku benar-benar bingung dengan apa yang harus aku lakukan? 

Berharap kau masih mengizinkanku memperbaiki kesalahan. Kesalahan fatal untuk beberapa waktu lalu. Aku siap dengan segala risiko. Tapi tidak dengan keputusan jika harus berhenti di sini.

Dengan segala perbuatan dan perlakuanku, matamu sedih. Aku tidak yakin apa ini akan menjadi kali terkahir. Harusnya aku tahu, aku sadar, ini mengecewakan.

Tapi malam ini aku terperanjat, hanya nama dan perangaimu yang selalu mengabut dalam pikiranku. Selama ini aku tidak tahu bagaimana menjadi laki-laki yang kau inginkan. Tidak tahu cara menjadi laki-laki yang kau rindukan. Tidak mengerti pentingnya berkomunikasi setiap hari. Tapi semoga ini hari yang bagus untuk meminta maaf. Maafkan aku. 

Percayalah setiap kata, yang aku ucapkan benar. Satu hal yang aku yakini, adalah caraku mencintaimu. Salah satu yang aku harapkan adalah agar kita terus bertahan. Tak ada seorang pun yang sempurna. Terakhir, semua ini penyesalan.

Selasa, 08 Oktober 2019

Sabtu, 05 Oktober 2019

Taksa Terakhir


Aku punya cara sendiri untuk mencintaimu, bukan untuk kutunjukkan atau kubanggakan. Iya, apa yang sedang aku lakukan bersamamu saat ini juga bukan proses mencari kesempurnaan. Namun, belajar menerima kekurangan satu sama lain untuk melengkapi kesempurnaan itu.

Aku juga tahu kamu pantas mendapatkan dunia, dan aku tahu, aku tidak bisa memberikannya kepadamu. Jadi, aku akan memberimu hal terbaik berikutnya: duniaku.
Sungguh menakjubkan bagaimana suatu hari aku bisa masuk ke dalam hidupmu dan kamu tidak bisa mengingat bagaimana kamu hidup tanpa aku.

Kamis, 03 Oktober 2019

Tak Sepadan

Aku laki tak pernah meneguk tuak
Bukan juga pengonsumsi tumbuhan semak
Hai gadis, jangan lihat aku seperti pemberontak
Aku hanya menyulut rokok di samping asbak.

Tajam katamu:
"Sama saja, kau begitu agar terlihat jantan."

Tetapi persetan, dengan apa yang kau katakan
Aku muak mendengar muntahan bualan
Mulutmu berkata penuh hinaan
bagimu aku bukan laki andalan.

Kau memalingkan muka, tak apa
Tapi  satu yang harus kau ingat
Aku manusia merdeka
Atas keramaian dunia yang cedera.

Rabu, 02 Oktober 2019

Mendukungmu Penuh


Kau mulai menjelma menjadi seseorang yang paling bahagia. Kehadiranmu selalu kudamba tapi kita ini manusia sibuk. Kau sibuk dengan kuliahmu aku sibuk memikirkanmu. Meskipun begitu ada kabar baiknya. Kita sepakat dengan adanya akhir pekan, kau dan aku sempatkan menggelar perjumpaan.

Perjanjian selalu menjadi kegiatan sakral. Bagaimana tidak, perjanjian begitu erat dengan pengkhianatan. Sejak awal, dari kita sadar memutuskan untuk membatalkan adalah hal tabu. Hal itu juga yang mendasari entah berapa puluh kali kita bertemu.

Namun beberapa minggu kita sudah tidak bertemu. Bahkan untuk membuat perjanjian, begitu sulit, begitu rumit.

Memang benar kau sudah memberikan alasan ihwal kesibukanmu melalui pesan. Mungkinkah aku lelaki lemah? Tidak, aku mempersilakan dan mendukungmu penuh.



Selasa, 01 Oktober 2019

Chaos


Ada malaikat maut yang mengintainya
Dua titik hitam melihat tajam relung jiwanya
Napas yang terengah-engah
Menambah perkara kematian kian dekat
Disempatkannya ia menyampaikan amanat
“kuburanku akan selesai besok pagi,
Kuburkan aku di samping Nyai.”

Suara gagak nun jauh terdengar samar-samar
Mencekam waktu yang terus berputar
Dari bilik kamar, jaga-menjaga intai-mengintai.

Semua orang akan modar
Hari demi hari menunggu giliran
Ketika tiba saatnya
Penuh aroma kembang mawar.