


Dijadikan tersangka dalam segala hal. Siapa yang peduli? Adakah orang lain selain pelaku yang tahu. Menyebalkan sekali, apakah seperti ini rencana jangka panjangmu. Meragukan diriku. Menjatuhkan serta tidak mau tahu kondisi saat ini dan nanti.
Kita tidak pernah tahu bagaimana permasalahan ini ada hingga berakhir. Konflik muncul begitu saja tanpa kompromi. Mencabik-cabik segala yang terlihat di depan mata. Dasar kau kutu buku. Bagaimana kau tahu praktik ke depan, memanajemen segala lini. Padahal kau seorang teoretik tak sekaliun pernah praktik.
Segala ocehanmu, segala pola pikirmu membunuh pemikiran kecil yang sedang berkembang. Mematahkan semangat hingga tak dapat pulih jika itu kondisinya. Kau asyik dengan pemikiran absolutmu tanpa dialektika demokrasi. Hatimu penuh ragu tanpa memercayai bahwa bibit-bibit ini akan berkembang sesuai zaman dan kapasitasnya masing-masing.
Aku tahu, aku juga punya mimpi meski kosepku selalu mentah di kepalamu. Tapi kali ini bibit-bibit yang aku tanam dapat bertahan dari segala konsekuensi. Mempertahankan apa yang ada bukan menghancurkan yang ada. Optimis dengan yang ada, bertahan sampai yang sebisa. Menuai hasil terbaik? mari kita lihat di akhir nanti.
Akan ada masanya bibit-bibit ini bertumbuh paling baik, ada masanya kerdil bahkan tak seseorangpun enggan memetik. Karangan yang selesai ditulis namun tak pernah dipublikasikan. Perjalanan hidup memang terasa pedih, tapi kesuksesan masih dapat diraih.
