Senin, 30 September 2019

Buat Ning

Ning

Pernah kita lewati tiga tahun bersama
Semoga aku tidak salah
Dan kini kuingat kembali
Wajahmu citra pertama.

Kau, aku, sedang di jalan yang sama
Selanjutnya tak ada pagar pemisah, harapnya.

Untukmu Ning
Dan kekagumanku kepadamu
Akan kulihat sepasang matamu
Benar tepat di bawah keduanya, kuberanikan
Menatap wajahmu, menatap jiwamu.

Jika kau beri kesempatan bersuara
Aku kan berkata
Atas nama diriku sendiri
Atas segala ilusi.

“Sebelum kau lahir, sebelum semestamu hadir,
Tuhan telah hembuskan takdir."

Kuungkapkan renjanaku kepdamu
Buat Ning,
“Biarkan kobaran perasaan ini berapi-api”
Lantas apa hanya seperti ini?
Tidak, ada besar harapanku padamu
Beranikah kau mendekap api yang berkobar ini?

Minggu, 29 September 2019

Perlawanan Mahasiswa




Aku tak sempat menjawab notifikasi yang muncul di layar gawaiku
23 September, seruan revolusi reformasi hilir mudik mengabari
“Ambillah tawaran ini kawanku, kosongkan kelas, besok kita turun ke jalan Adi Sucipto,
Kapan lagi mahasiswa angkat bicara? Siapkan bahumu kita gabung aliansi mahasiswa bersatu”
Pundakku lemas semua bayangan domonstrasi kelabu mengabut hitam di pikiranku
Namun teman-temanku besok beranikan diri pasang badan demi dedikasi pengamalan Tridarma
perguruan tinggi.

“Kita ini menjadi harapan masyarakat di luar sana, angkat dagumu perlihatkanlah wajah kepeduilanmu,
Kita tidak sendiri, besok akan ada massa satu komando, satu tujuan, dan memanggul harapan”
Satu lagi notifikasi masuk, namun lagi pundakku kini terasa tak bertulang.
Lemas, bingung, bikin limbung tak bergoyang
Dalam pikirku akankah aku diam melihat teman-temanku berjuang untuk satu tujuan, keadilan?
Sementara di sini aku berdiam diri tak pasti, merelakan mereka berjuang mandiri.

Aksi di depan gedung DPRD besok butuh banyak massa
“Tapi, aku ini siapa?” mahasiswa yang katanya kaum intelek, kaum bestari
Malu aku dengan poster Bung Karno di dinding kamar indekosku
Akankah wajahku ditampar keras, mahasiswa dengan nyali tak tegas
Berlalu, berpikir keras, jiwa solidaritas harus kujunjung ke atas
tak mungkin aku hanya menyaksiakan perjuangan mereka yang ikhlas.

Ku angkat gawaiku, kucari nomor ibuku tuk meminta restu
“Ibu, anakmu ingin mengatakan sesuatu, aku ingin membantu teman-temanku hari selasa besok ibu.
Ibu pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan mahasiswa, izinkanlah dan berikan restu.”


2.
Seorang teman mahasiswa bertanya “Adakah cukup nyalimu untuk aksi hari ini?”
Tertegun dan terdiam sejenak, kemudian dengan lantang aku berkata:
“Semalam aku berbicara dengan cermin usangku, kota ini memiliki mahasiswa yang peduli dengan tanah lahirnya dan aku salah satunya”
“Bagus” katanya.

Aku juga tak lupa, membawa poster bertuliskan kritik jenaka yang kubuat malam sebelumnya
Penuh hikmat kuikuti serangkaian upacara menyambut aksi nyata mahasiswa.

“Kita tak segera mati di jalan ini, tapi maut mengintai di depan sana, mungkin kita akan bertengkar ihwal setor nama siapa yang harus dituliskan di batu nisan, setelah orasi dibacakan sebelum perlawanan dibungkam, reformasi dikorupsi!”

Cinta pasti juga akan datang di jalan ini, dan kita bersatu atas nama cinta, manusia mana yang akan kita selamatkan, teman!
Biarkan tuntutan dihargai dan apapun yang terjadi asalkan keselamatan menyertai
Mahasiswa memilki ambisi menyelamatkan negeri, jangan biarkan hidup birokrasi yang represif
Bangun dan bantulah kawanmu sebagai mahasisa progresif, dengan turun ke jalan sebagai alternatif

Kita tak segera mati di jalan ini kawan, kita kuburkan peraturan-peratuan yang sewenang-wenang
Lawan! Hidup mahasiswa, panjang umur perlawanan.

Sabtu, 28 September 2019

Sabtu Malam


Di sini, mungkin hari tak pernah tertawa
Sebagaimana mendengar kabar duka
Atau dingin pagi sebelum diguyur terik
Halus namun mencekam siapa saja
Tampak kutemukan kembali
Dunia kecil penuh dengan  keramik
Di sini di balik ilusi
Tak ada cemas dalam bangun mimpi-mimpi
Sabda di dasar jurang menggema
Akulah duka abadi.

Malam Ini Tuhan Datang

Ku ambil pena, ku sahut kertas
Di atas luka kutuliskan:
“Wahai Tuhan, hamba malam ini kesepian
apakah ini takdir?
Saya ini musafir
yang mencari air di padang pasir
Saya ini sekeping koin ditumpukan pioner.”

Begitulah ia hikmat menuliskan duka
Tapi malam ini Tuhan datang
Dengan secawan madu
Membalurkan cita di malamnya.


Sebelum Himne


Menatap enamel
Sebelum himne
Di sini, di ruang yang sama
Arah bintang jatuh
Meteor menghujam dari langit.

Satu—dua—tiga
Jatuhnya mengisolasi ruangan ini
Keras, menciptakan delusi
Tanganku kaku, jiwaku membeku
Dalam belenggu aku menunggu
Kabarmu
Kabarmu
Duduk di kursi itu aku tatap pesan terakhirmu.

Jumat, 27 September 2019

Tentang Kamu dan Senja

Saat aku mengikuti langkah-langkah yang kau tinggalkan
Aku tak habis pikir, pernah kita lalui bersama melukis di atas pasir.

Alih-alih mengingat kenangan bersamamu
Diriku dulu yang bringas meninggalkanmu tanpa pikir dosa,
lenyai terngiang memori berkisah.

Ku gunakan tenaga-tenaga yang tersisa
Namun percuma, tak ada daya tak ada asa,
Seperti senja, kisah kita ditelan cakrawala.

Kamis, 26 September 2019

Yang Ditiadakan untuk Menyambut Sukacita Musim Semi

Perayan pergantian musim semi akan tiba
Menghempaskan masa-masa ketika segalanya harus berhenti sejenak
Dalam hawa dinginnya sore, saat-saat air mulai jatuh dari atas sana
Kau kenakan mantel berwarna biru toska
Bersedia menerima dengan lapang dada tetesan air yang kian deras
Mengiringi kepulanganmu setelah tugas seharian yang kebanyakan diisi hawa panas
Sementara perayaan menyambut musim semi, tepat bulan ini tanggal dua belas.

“Aku menyukai musim semi, bukankah kamu sudah tahu?”
ucapmu.

Ia berikan jawaban itu, sesaat hanya ke padanyalah hatiku bertanya, mengapa?
Namun, bahkan bukan hanya perayaan musim semi saja
Ada hasratku yang belum terlaksana sebelum musim semi tiba
Sebuah renjana mengungkapkan rasa, misalnya.