Kamis, 06 Januari 2022

Menjadi Orang Lain

Pekerjaan menjadi seorang ghost writer atau penulis bayangan bukanlah perkara mudah. Apalagi tulisan yang dipesan lebih kepada penjenamaan pribadi. Beberapa bulan ini saya melihat bagaimana proses menjadi orang lain pada diri saya sendiri. Setidaknya saya merasakan hal itu dari pagi hingga menjelang sore.

Ketika kilen memesan sebuah artikel dengan 'sekenanya' di situlah berubah 'menjadi orang lain' saya rasakan. Tanpa pertemuan sebelumnya, tiada data yang menyertainya, hanya bermodalkan sebuah gambar dengan sedikit caption di bawahnya hal itu harus menjadi sebuah artikel empat hingga lima halaman panjangnya.

Ketika proyeknya membahas isu-isu kontemporer atau strategis di situlah ada perasaan lebih lega. Karena, saya tidak akan merasa kesusahan dalam mencari data pendukung. Berbeda dengan beberapa klien yang memang berniatkan memiliki sebuah buku sebagai privilese hidup tanpa memberikan data atau tema yang sesuai kehendak proyeksi bukunya. 

Tipe yang seperti ini sedikit menyusahkan. Karena mereka sebenarnya bukan orang-orang dengan jejak digital yang mumpuni. Bermodalkan uang mereka menaruh harap memiliki buku sebagai privilese itu.

Saya katakan tidak memiliki jejak digital penuh tidak lain, jejak digital adalah fondasi saya dalam menuliskan sesuatu sebagai penulis bayangan. Terkadang saya sedikit membual atau hiperbolis dalam menuliskan sesuatu yang berkenaan dengan profil seseorang dan menyangkutkan kontribusi orang tersebut dalam tulisan yang dipesannya.

Dalam kondisi demikian saya mencoba memosisikan diri saya sebagai klien. Mencoba menulis dengan representasi orang lain. Dan di kondisi itu pula yang membuat terlintas di pikiran 'saya menjadi orang lain'.

Tidak ada masalah sebenarnya, dari situ kadang saya belajar menjadi karakter dan perangai orang lain. Dan belajar berpijak pada pikiran netral dengan mengikuti nurani yang menuntun.

Yang sedikit dipermasalahkan adalah karakter, latar belakang, dan pesanan klien yang begitu random. Terkadang saya harus memosisikan diri sebagai seorang abdi negara, atau sebagai pemerhati kota, atau sebagai pemuda yang senantiasa mencintai desanya. Ada yang lebih parah, kadang saya harus menjiwai karakter seorang sosialita yang notabebe jauh dari karakter saya sendiri.

Dalam hal-hal begitulah terkadang saya geli membaca apa yang coba saya tuliskan. Mungkin setelah ini saya akan mencoba menjadi karakter lain yang lebih jauh latar belakangnya dengan kehidupan saya.


wiki how


Rabu, 05 Januari 2022

Tiga Bulan Ini di Jogja


Sebenarnya memutuskan untuk berkarier jauh dari keluarga bukan sesuatu keputusan yang menakutkan. Hanya saja jauh dari mereka harus siap dengan risiko yang ada. Utamanya kalau secara finansial tidak terlalu baik haha. 

Ada beberapa hal menarik yang saya temui setelah memtuskan untuk berkelana keluar kota. Kali ini Yogyakarta adalah tempat di mana tiga bulan saya menghabiskan Senin sampai Jumat kadang Sabtu selalu di bilik kamar ukuran 3x3 setiap malamnya.

Kendati sedari pagi hingga sore setibanya disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ternyata rasa sepi di malam hari tidak menampik bahwa saya membutuhkan teman untuk berinteraksi. Indekos yang saya tinggal juga tidak menunjukkan tanda-tanda saya akan akrab dengan peghuninya.

Akhirnya, setiap malam selalu saya habiskan untuk menatap layar gawai atau membaca buku jika niat hatinya. Bukan perkara mudah kadang. Jika biasanya di rumah malam hari selalu saya habiskan waktu berkumpul bersama teman-teman. 

Terkadang jika berkenan, mereka juga meluangkan waktu untuk menghubungi saya. Tapi pada malam-malam selebihnya saya kembali ke rutinitas mengabdi bersama gawai saya. Kisah saya juga dialami banyak orang di luar sana, pasti.

Saya berharap orang-orang yang saya kenal yang juga berada di Kota Pelejar ini dapat ditemui. Setidaknya saya mengetahui kabar mereka selalu baik-baik saja dan berbincang kisah lama mungkin adalah opsi yang menarik untuk mengisi malam yang luang ini.