Kamis, 06 Januari 2022

Menjadi Orang Lain

Pekerjaan menjadi seorang ghost writer atau penulis bayangan bukanlah perkara mudah. Apalagi tulisan yang dipesan lebih kepada penjenamaan pribadi. Beberapa bulan ini saya melihat bagaimana proses menjadi orang lain pada diri saya sendiri. Setidaknya saya merasakan hal itu dari pagi hingga menjelang sore.

Ketika kilen memesan sebuah artikel dengan 'sekenanya' di situlah berubah 'menjadi orang lain' saya rasakan. Tanpa pertemuan sebelumnya, tiada data yang menyertainya, hanya bermodalkan sebuah gambar dengan sedikit caption di bawahnya hal itu harus menjadi sebuah artikel empat hingga lima halaman panjangnya.

Ketika proyeknya membahas isu-isu kontemporer atau strategis di situlah ada perasaan lebih lega. Karena, saya tidak akan merasa kesusahan dalam mencari data pendukung. Berbeda dengan beberapa klien yang memang berniatkan memiliki sebuah buku sebagai privilese hidup tanpa memberikan data atau tema yang sesuai kehendak proyeksi bukunya. 

Tipe yang seperti ini sedikit menyusahkan. Karena mereka sebenarnya bukan orang-orang dengan jejak digital yang mumpuni. Bermodalkan uang mereka menaruh harap memiliki buku sebagai privilese itu.

Saya katakan tidak memiliki jejak digital penuh tidak lain, jejak digital adalah fondasi saya dalam menuliskan sesuatu sebagai penulis bayangan. Terkadang saya sedikit membual atau hiperbolis dalam menuliskan sesuatu yang berkenaan dengan profil seseorang dan menyangkutkan kontribusi orang tersebut dalam tulisan yang dipesannya.

Dalam kondisi demikian saya mencoba memosisikan diri saya sebagai klien. Mencoba menulis dengan representasi orang lain. Dan di kondisi itu pula yang membuat terlintas di pikiran 'saya menjadi orang lain'.

Tidak ada masalah sebenarnya, dari situ kadang saya belajar menjadi karakter dan perangai orang lain. Dan belajar berpijak pada pikiran netral dengan mengikuti nurani yang menuntun.

Yang sedikit dipermasalahkan adalah karakter, latar belakang, dan pesanan klien yang begitu random. Terkadang saya harus memosisikan diri sebagai seorang abdi negara, atau sebagai pemerhati kota, atau sebagai pemuda yang senantiasa mencintai desanya. Ada yang lebih parah, kadang saya harus menjiwai karakter seorang sosialita yang notabebe jauh dari karakter saya sendiri.

Dalam hal-hal begitulah terkadang saya geli membaca apa yang coba saya tuliskan. Mungkin setelah ini saya akan mencoba menjadi karakter lain yang lebih jauh latar belakangnya dengan kehidupan saya.


wiki how


Rabu, 05 Januari 2022

Tiga Bulan Ini di Jogja


Sebenarnya memutuskan untuk berkarier jauh dari keluarga bukan sesuatu keputusan yang menakutkan. Hanya saja jauh dari mereka harus siap dengan risiko yang ada. Utamanya kalau secara finansial tidak terlalu baik haha. 

Ada beberapa hal menarik yang saya temui setelah memtuskan untuk berkelana keluar kota. Kali ini Yogyakarta adalah tempat di mana tiga bulan saya menghabiskan Senin sampai Jumat kadang Sabtu selalu di bilik kamar ukuran 3x3 setiap malamnya.

Kendati sedari pagi hingga sore setibanya disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ternyata rasa sepi di malam hari tidak menampik bahwa saya membutuhkan teman untuk berinteraksi. Indekos yang saya tinggal juga tidak menunjukkan tanda-tanda saya akan akrab dengan peghuninya.

Akhirnya, setiap malam selalu saya habiskan untuk menatap layar gawai atau membaca buku jika niat hatinya. Bukan perkara mudah kadang. Jika biasanya di rumah malam hari selalu saya habiskan waktu berkumpul bersama teman-teman. 

Terkadang jika berkenan, mereka juga meluangkan waktu untuk menghubungi saya. Tapi pada malam-malam selebihnya saya kembali ke rutinitas mengabdi bersama gawai saya. Kisah saya juga dialami banyak orang di luar sana, pasti.

Saya berharap orang-orang yang saya kenal yang juga berada di Kota Pelejar ini dapat ditemui. Setidaknya saya mengetahui kabar mereka selalu baik-baik saja dan berbincang kisah lama mungkin adalah opsi yang menarik untuk mengisi malam yang luang ini.

Rabu, 21 Juli 2021

Hah!

Rasanya saya tidak begitu kecewa. Saya sudah menebak sebelumnya ini akan terjadi. Seakan hanya menunggu waktunya tiba saja. Tetapi mulut sudah telanjur kering. Menelan ludah pun tidak bisa.

Seharusnya hari ini menjadi hari yang baik. Tetapi sudah jelas hari ini tidak terjadi apa-apa.

Haruskah seperti ini menelan pil pahit. Membikin menunggu kepastian yang saya khawatirkan. Saya yakin teman-teman sudah merencanakan sesuatu untuk saya. Malah saya yang membuat mereka kecewa.

Terlebih ada yang saya takutkan, saya bisa memastikan jiwa saya kuat namun tidak dengan teman yang ikut merasakan hal yang sama.


F*ck for Me

Beberapa hari ke belakang menjadi hari yang tidak begitu menyibukkan. Banyak waktu luang yang kuisi dengan sekadar menonton film atau menamatkan anime on going. Sepertinya sudah dua minggu ini lamanya. 

Setiap kali menyelesaikan sebuah film atau anime banyak pelajaran yang bisa kupetik. Aku tidak akan membahas pelajaran apa yang kudapat. Karena kebanyakan amanat film yang aku tonton akan lupa beberapa hari setelahnya. Hanya saja aku bingung, dua minggu ini aku sering melamun. Di setiap lamunan terselip pertanyaan. "Setelah ini aku harus apa?"

Membuat perencanaan kehidupan tidak semudah yang aku bayangkan. Aku adalah orang yang mudah ingkar dengan janjiku sendiri. Lebih tepatnya janji yang aku buat kepada diriku sendiri.

Mengapa seperti ini, kenapa tidak sat-set sat-set. 

"Setelah ini harus apa?"

"Setelah ini harus apa?"

"Besok aku harus ini-itu" Tapi besoknya aku tidak melakukan apa-apa. Selalu seperti ini siklusnya.

Jika sudah seperti ini aku selalu ingat dengan ucapan seseorang. "Jika kamu tidak jalan sekarang, besok kamu harus lari." 

Rasanya menyesal dan putus asa. Tapi masih merasa aman, entah mengapa seperti ini. 

Karena sudah begitu kejadiannya. Aku kembali membuat janji besok harus tidak begini. "Setelah ini harus ada hal lain yang dikerjakan, apa pun itu," ucapku benar belaka.

"Ini yang terakhir semoga besok tidak kumat" janjiku sambil bersantai tidak ada malunya.

"Setidaknya aku sudah menuliskan ini," harapku. "Aku akan ditampar apabila masih mengulangi dan berpikir setelah ini harus apa?"

Untuk memuluskan janjiku ini ditepati, aku harus berusaha untuk mengerjakan hal apa pun dan selalu menutup usaha dengan kalimat "Setelah ini tidak ada masalah, semua sudah diusahakan besok tinggal melihat hasil dan berusaha lagi,"



  

Kamis, 24 Desember 2020

Es Krim di Hari yang Baik

 Di Desember yang mendung itu jarang kusaksikan matahari akan perlahan menghilang seperti di tiap sore di musim kemarau. Namun, hari itu aku beruntung karena mendapatkan hari yang cukup cerah, cukup terik. Hari yang baik! Akan ada agenda besar yang harus aku tuntaskan di penghujung tahun ini. Setidaknya, tahun yang tidak begitu bagus ini harus kuakhiri dengan hal bahagia.

Jarum pendek menunjuk angka sepuluh, aku yang sudah bangun setengah jam yang lalu bergegas ke kamar mandi. Cukup lama aku di dalam, membayangkan hal bahagia kudapatkan hari ini.  

Kuangkat handuk, mengeringkan tubuh dan rambutku, mengambil flannel dan menyeprotnya dengan parfum cukup banyak di setiap bilangan baju. Di atas Kasur layar hpku menyala, sebuah pesan masuk bertuliskan “Jangan lupa agenda hari ini, aku tunggu sesuai kesepakatan kemarin”.

Sekira jam 1 siang aku keluar mengendarai motor menuju rumah Ayu. Siang ini aku mengajaknya untuk pergi ke kedai es krim La Moda Del Gelato. Kami memasuki pintu beranda kedai dan melirik beberapa varian es krim. Ayu memilih terlebih dahulu, aku tak memilih.

“Sama seperti yang kamu pesan saja.” pintaku.

Beberapa saat es krim kami pun jadi.

“Biarkan kali ini aku yang membayar,” Ayu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang.

“Aku akan menggantinya.” balasku.

“Gak perlu, ini adalah hari yang baik bukan?”

“Ya, hari yang baik,” aku sedikit tersadarkan oleh kalimat itu.

Es krim kami bawa masing-masing. Kami menuju lantai dua. Seperti yang sudah-sudah aku selalu meminta pertemuan di mana aku bisa menyulut rokokku dengan korek. Ayu tak pernah mempermasalahkan asap yang aku timbulkan. Ia tahu betul aku seorang perokok berat. Tersebab Ayu sudah mengetahui kebiasaanku ini sejak lama.

Setibanya di lantai dua, tidak perlu mengawasi di mana bangku yang kosong. Siang itu lantai dua memang sepi, hanya ada aku dan Ayu. Kami memilih bangku di balkon dekat jendela.

“Boleh aku duduk di sisi ini?” pintaku.

Ayu tak menanggapi. Dia masih memandang kursi yang aku pegang.

“Baiklah kalau kamu nggak mau aku duduk di sini” aku hampir meninggalkan kursi yang ingin kupilih itu.

“Hemm... sebenarnya aku mau duduk di situ, view-nya bagus. Tapi, tak apa lah kamu yang duluan pengin.”

“Terima kasih sekali.” kami berdua duduk.

Aku menghadap ke barat ke arah jalan yang ada di depan La Moda Del Gelato. Tidak jauh dari situ, stadion Manahan berdiri megah. Sedangkan Ayu duduk tepat di depanku sambil menikmati es krimnya. Aku pun mengikuti cara yang Ayu gunakan ketika menikmati es krim. Beberapa saat aku masih canggung untuk memulai obrolan. Aku sejenak melamun untuk menunggu Ayu memulai obrolan.

“Bagaimana hari-harimu?” tanyanya seketika.

“Baik, cukup baik. Bisa dilewati seperti hari biasanya. Kamu?”

“Sama sepertimu. Kemarin hari terakhirku ujian tapi berlalu saja.”

“Aku tahu, makanya aku mengajakmu ke sini.”

“Kamu udah pernah ke sini ya?”

“Belum, ini kali pertama aku ke sini”

“Lalu, mengapa kau mengajakku ke sini? Aku pikir kita nggak bakal main jauh sampai sini.”

“Kamu lupa?”

“Lupa?”

“Bukannya dua minggu lalu kamu bilang BM es krim!?” ucapku tegas sambil memastikan.

“Oh, kamu masih mengingatnya. Baguslah, aku pikir kamu lupa, kamu sibuk sekali akhir-akhir ini. Bahkan BM-ku baru bisa dituruti hari ini.” Ayu senyum kecil sambil mengangkat kedua alisnya kemudian melanjutkan menikmati es krim di tangannya.

“Iya, maaf deh” desisiku.

“Terima kasihlah.”

“Hah?”

“Terima kasih, kamu masih mengingatnya terlebih meluangkan waktu di jadwal padatmu.”

“Oh…” aku mengangguk setuju.

“Apa yang ingin kamu bahas siang ini?” tanya Ayu.

“Banyak hal.”

“Aku termasuk ke pembahasanmu?”

“Kamu hal utama.”

“Wow, menarik ya sepertinya.”

Aku tak menghiraukan perkataan itu.

“Apakah menurutmu empat bulan adalah waktu yang cukup atau bahkan kurang?”

“Cukup untuk? Kurang untuk? Apa maksudmu?” Ayu mempertegas ucapannya.

“Kedekatan kita.”

Suasana hening sejenak.

“Coba jelaskan sedetail mungkin, aku tidak paham maksudmu.” Ayu menarik napas panjang. “Aku siap mendengarkannya, terlebih siap dengan keputusanmu soal kedekatan yang kamu maksud, apapun.” sambungnya.

Kedua mata saling menatap. Dan aku memulai bercerita.

***

Kita tak saling berbicara intens cukup lama. Aku tidak tahu kamu sekarang masih sama seperti Ayu yang dulu atau tidak. Apakah kamu berubah setelah mengenal laki-laki itu yang kurang lebih lima tahun lamanya. Kalian menjalin hubungan. Meskipun kamu sempat bercerita pernah putus nyambung dengannya beberapa kali.

Aku tidak pernah menyinggung bagaimana kalian bersama. Bahkan pernah putus nyambung itu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kita juga pernah bersama tanpa ada perasaan, tanpa ada ikatan. Mungkin teman baik, jika aku boleh mengklaimnya.

Kemudian kita berpisah karena pendidikan dan dari situ kamu mengenal laki-laki itu. Lima tahun tanpa sepengetahuan banyak orang. Bahkan teman-teman lama kita yang kutanyakan. Satu pun dari mereka tidak ada yang tahu. Hingga akhirnya aku sendiri yang mengetahuinya belum lama ini.

Aku berhenti sejenak sambil melirik keadaan sekitar.

Sudahlah, hal itu bukan yang menjadi pembahasan panjang siang ini. Bukankah kita harus berdamai dengan masa lalu? Tapi, peristiwa di masa lalu itu mampu mengubah keadaan sekarang. Tak terkecuali perasaan seseorang.

“Oke, sepertinya belum selesai ya?” Ayu menyela.

“Sedikit lagi.”

“Lanjutkan.”

Perkara waktu yang mengubah sesuatu ini, yang akan kubahas dan tanyakan padamu. Kita juga pernah bersama cukup lama. Kemudian berpisah cukup lama, dan kini kita dekat kembali. Empat bulan sesuai perhitunganku kita melakukan hubungan intens. Dalam waktu itu pula kita sering keluar bareng. Apakah kamu merasakan ada yang berbeda dari hubungan kita yang dulu-dulu?

Ayu menarik napas dalam-dalam dan memandangiku serius beberapa detik.

“Baiklah, yang kamu ceritakan barusan tadi benar.”

“Ya, benar karena aku mengatakan sejujur yang aku tahu.” selaku.

“Sekarang giliranku bercerita, ya?” ucap Ayu sambil memastikan.

“Yaa,” aku mengangguk-anggukan kepala.

***

Jadi, yang kamu katakan tadi semuanya benar. Setelah kita berpisah cukup lama karena urusan pendidikan aku memang dekat dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya kami memang menjalin hubungan. Selama lima tahun. Aku memang merahasiakan hubunganku dengan banyak orang bahkan dirimu. Banyak dari teman-teman kita yang mengira aku tidak memiliki hubungan, sama sekali. Hanya ada beberapa orang yang tahu.

Aku menjalin hubungan dengannya. Kemudian LDR di tahun kedua kami berpacaran. Tidak mudah ternyata. Dalam empat tahun LDR sempat dua atau tiga kali kami break. LDR memang membuat kisah kami makin berwarna. Dan memang yang terakhir itu kami benar putus. Dia selingkuh untuk kedua kalinya.

Pada awalnya aku sudah putus asa, namun dia memang pandai merayuku, beberapa kali itu kami balikan. Bahkan untuk yang terakhir kami putus, dia hampir membuatku melakukan kesalahan lagi. Ia meminta balikan. Namun, aku bersyukur itu tidak terjadi karena kamu.

“Karena aku?” Aku menyela tersebab cukup kaget.

“Iya, oleh kamu.”

“Aku melakukan apa emang?”

“Makanya diam dulu, biarkan aku melanjutkan cerita,” tukas Ayu.

“Boleh aku sambil menyebat rokokku?”

“Silakan.”

Aku dan mantanku putus sekira awal tahun ini. Aku sempat tak menyangka kalau hubungan yang berjalan lima tahun akan berakhir. Aku hancur, aku gak tahu harus berbuat apa. Aku sempat menyesal mengapa hubungan kami harus berakhir. Setelah kami putus beberapa bulan tak pernah lagi saling bertukar kabar, apa pun, bahkan beberapa media sosial kami saling blokir. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya selama itu.

Kemudian, di pertengahan tahun melalui temannya, ia mengabari akan pulang. Aku tahu siklus ini sudah terjadi beberapa kali. Ketika kami break, ia pulang dan mengajakku pergi keluar, bisa dipastikan ia meminta agar kami balikan. Dan beberapa kali kami break ia selalu berhasil membujuku, kami balikan. Namun, tidak untuk yang terakhir.

Aku bersyukur, ketika mantanku hampir melakukan siklus yang sama, tepat empat bulan yang lalu kamu tiba-tiba datang meski via pesan WhatsApp saja.

Gak ada angin dan gak ada hujan malam itu kamu mengabari, bayangkan!

Kamu yang gak pernah sekalipun chat aku mendadak menanyakan sesuatu yang membuatku tersadar akan bujukan mantanku. Bahkan pertanyaan yang kamu layangkan malam itu, semacam sinyal bahwa aku tidak pantas mengulangi kesalahan yang sama. Meskipun kamu tidak tahu kondisiku malam itu.

Bahkan dalam pesanmu itu, kau mengakhirinya dengan “akan ada yang datang kepadaku pengganti yang lebih baik”. Aku begitu terperanjat mengapa kamu datang di saat yang tepat kala itu. Pasti kamu tidak mengira ini kan?

Aku tak menjawab, masih cukup tercengang dengan cerita Ayu barusan. Kulanjutkan menghisap rokok yang ada di tangan kiriku.

Kamu bilang empat bulan tadi, ya ini, yang aku rasakan. Kamu datang di saat yang tepat. Di saat mantanku ingin mengajak balikan, mendadak kamu datang semacam memberi sinyal agar aku tak jatuh kesekian kalinya.

Jika kamu bertanya apakah empat bulan adalah waktu yang ideal. Aku tidak tahu maksudmu. Ideal untuk hal apa. Apakah yang kamu maksud itu kedekatan kita semenjak kejadian di malam empat bulan yang lalu hingga sekarang? Atau apa?

Kumatikan rokok dengan meluruhkan ujungnya ke asbak.

“Begini, apakah waktu empat bulan cukup membuatmu berlalu dan beranjak dengan cerita masa lalumu lima tahun itu?” tanyaku.

“Tergantung.”

“Apa?” tanyaku singkat.

“Apa kamu gak merasakannya sendiri, sejauh mana kedekatan kita. Sekarang aku tanya, kamu serius sama aku?”

“Ya, aku serius.”

“Hanya itu saja?” Ayu kembali memastikan.

“Aku mau kita ada hubungan lebih dari teman,”

“Sebentar…” Ayu ketawa kecil. “Kamu jangan langsung tanya itu lah, nanti dulu”

Aku hanya memasang muka heran.

“Coba, kamu bilang pelan-pelan, kamu membuatku tertawa.” sambung Ayu.

“Aku serius, katamu tadi aku serius atau engga, ya ini aku serius”

“Boleh aku bertanya?”

Ayu mau tanya apa lagi sih, pikirku. “Silakan.”

“Apa kamu orang yang bisa menerima kekurangan orang lain, yang kumaksud di sini adalah aku.”

“Selama ini menurutmu aku pernah memaksakan yang tidak kamu bisa?”

“Gak pernah. Kamu tidak keberatatan jika teman-teman lama kita mengetahui hubungan kita ke depannya?”

“Peduli apa mereka, kita yang menjalani.”

“Kita sudah saling dewasa, bukan?”

“Iya, lalu?”

Terdengar suara langkah kaki di tangga menuju lantai dua. Ayu melihat siapa yang datang saat itu. Dua orang wanita dengan es krim di tangan masing-masing berjalan dan memilih bangku tidak jauh dari kami.

Ayu mendekatkan tubuhnya ke meja, mencoba mengatakan sekiranya dua wanita di samping kami tidak sampai mendengar. Ayu sedikit melirihkan ucapannya.

“Jika kamu datang hanya sekadar mencoba, aku tidak bisa. Aku sudah lelah dengan fase-fase itu. Di umur kita yang sekarang bukan lagi main-main. Jika kamu berkehendak meminta hubungan serius denganku kamu juga harus berpikir untuk tahap selanjutnya?” Ayu mengangguk kecil memberikan kode semacam aku harus menyetujuinya.

“Sekarang coba kamu uraikan tujuanmu dan komitmenmu.” sambungnya

“Aku setuju dan sependapat dengan maksud yang kamu sampaikan. Alasan terbesarku memilihmu, aku pikir kita sudah di tahap bukan lagi untuk main-main. Kita pernah menyinggung ini suatu malam, bukan?”

Aku mengambil jeda beberapa detik.

“Jadi, di siang hari yang baik ini apakah kamu mau menerimaku? Maksudku, aku ingin kau jadi kekasihku.”

“Akan aku pegang apa yang telah menjadi komitmenmu.”

Ayu melihatku tajam.

“Dan untuk pertanyaan terakhir, aku jawab: iya aku mau.”

Senin, 26 Oktober 2020

Sajak-sajak Sukma Aji

Tak Jauh Darimu

 

Cinta tak jauh darimu

Ia bukan embun pagi

Yang hilang tersengat terik matahari.

 

Cinta tak pernah jauh darimu

Ia bukan bulan

Yang kalah terang dari sinar bintang.

 

Cinta yang kekal

Tak pernah meniatkan diri

Ia datang tak bisa disangkal.

                                             -Surakarta, Januari 2020

 


Aroma

 

Yang tersisa dariku di dirimu kini tinggal aroma

Entah itu bau parfum atau keringat

Ia tertinggal di lipatan bajumu

Bersemayam di bilangan yang tak terjamah.

 

Meskipun begitu

Malam ini tak boleh kusudahi

Aroma kepergian tak boleh sambut pagi

Menyisakan cerita tragedi.

                                           -Surakarta, Februari 2020

 


Pergi Perih

 

Rokok dan secangkir kopi menemani

Soreku yang mendung ini

Bertahan menyiasati sepi.

 

Sore terlampau dingin

Mengingat pergimu kemarin

Mati rasa yang engkau bikin.

-Surakarta, Februari 2020

 

 

 

  

Rabu, 30 September 2020

Begitulah

Jarak rumahku dengan surau sebenarnya tidak terlampau jauh. Tapi aku selalu menaiki sepada untuk pergi ke surau ini. Selepas salat maghrib saat kukayuh sepeda dan kusampirkan sarung di leher aku teringat kenangan semasa smp. Kenangan tentang salat juga.

Tahun 2013 tepatnya, waktu itu aku duduk di bangku kelas 9. Sekolahku memberikan jam istirahat kedua pukul 11.30 dan sudah barang tentu siswa laki-laki wajib ikut salat jemaah di masjid yang berada di koridor timur sekolah atau masjid Bazis yang ada di koridor barat sekolah.

Khusus kelas 9, kami diperbolehkan salat di masjid sekolah karena jaraknya yang dekat dengan kelas-kelas 9 juga daya tampung hanya mampu satu angkatan (kelas 9). Sementara kelas 7 dan 8 ditempatkan di masjid Bazis di koridor barat.

Namun agaknya masjid yang dimiliki smp, yang jaraknya hanya 15 meter dari kelasku ini tidak mendapatkan minat dari aku dan teman-teman kelasku untuk menunaikan salat zuhur. Aku dan lima belas temanku lebih memilih menambah langkah kaki untuk pergi ke masjid samping smp di sebelah kelas 7.

Padahal sekolah kami memiliki lahan yang cukup luas. Sekira 150 meter dari kelasku jarak masjid Bazis ini. Jadi, setiap salat zuhur kami 10 kali lipat jalan kaki dari kelas menuju masjid di samping smp dan itu kita lakukan saban hari. Yang menarik ialah perjalanan 150 meter ini. Lahan yang cukup luas membuat kami selalu mengganti rute di tiap siangnya.

Bahkan antara berangkat dan pulang kami tidak pernah melewati lintasan yang sama. Aku juga sempat bingung, mengapa? Tapi kata temanku yang selalu berada di ujung barisan kami mengatakan “Biar kita bisa silaturahmi dengan beda orang di setiap jalan Jik!” ungkapnya. Aku tidak menyangkal atau bertanya lebih, aku pikir pada saat itu jawaban ini benar dan menohok sekali!1!1!

Di hari selanjutnya saat berjalan ke masjid temanku yang lain menepuk pundakku, sambil berkata “Ah sudahlah jangan dipikirkan, kamu juga menikmati perjalanan ini kan? Cuman geng kelas kita yang melakukan ini”. Memang benar dari delapan kelas 9 cuman laki-laki kelasku yang memilih untuk sembahyang ke masjid yang lebih jauh.

Tidak hanya itu, karena jarak yang cukup jauh sering kali aku dan teman-temanku ini terlambat masuk kelas di jam terakhir. Lebih tepatnya menambah waktu istirahat sepulang dari masjid. Selalu ada saja temanku yang mengatakan kalimat “Nelat wae Cah! gurune nyantai iki”.

Nongkrong nang cerak wit rambutan wae karo ngadem” tambahnya.

“Cocokkk” sahut teman-temanku berbarengan.

Teman yang lain nyeletuk “Mengko nek telat gari ngomong 'salat neng Masjid Bazis, Pak, mulane telat'

Kami semua tertawa.

Jika diamati lebih lanjut, sebenarnya banyak sekali alasan yang mendasari kami lebih memilih untuk salat di masjid Bazis selain hal yang disebutkan tadi. Alasan lainnya itu seperti: tebar pesona dengan adek kelas, curi pandang dengan gebetan, jajan di kantin kelas 7, dan masih banyak lagi alasan yang pastinya di luar nalar nan ngawur.

Tapi semua itu, ya begitulah, jika diingat lagi kenangan ini ingin rasanya bernostalgia lagi dan lagi. Begitulah teman-temanku, sebagian kecil cerita singkat di antara waktu istirahat sampai masuk kelas kembali, waktu yang diijabah untuk beralasan telat.