Kamis, 24 Desember 2020

Es Krim di Hari yang Baik

 Di Desember yang mendung itu jarang kusaksikan matahari akan perlahan menghilang seperti di tiap sore di musim kemarau. Namun, hari itu aku beruntung karena mendapatkan hari yang cukup cerah, cukup terik. Hari yang baik! Akan ada agenda besar yang harus aku tuntaskan di penghujung tahun ini. Setidaknya, tahun yang tidak begitu bagus ini harus kuakhiri dengan hal bahagia.

Jarum pendek menunjuk angka sepuluh, aku yang sudah bangun setengah jam yang lalu bergegas ke kamar mandi. Cukup lama aku di dalam, membayangkan hal bahagia kudapatkan hari ini.  

Kuangkat handuk, mengeringkan tubuh dan rambutku, mengambil flannel dan menyeprotnya dengan parfum cukup banyak di setiap bilangan baju. Di atas Kasur layar hpku menyala, sebuah pesan masuk bertuliskan “Jangan lupa agenda hari ini, aku tunggu sesuai kesepakatan kemarin”.

Sekira jam 1 siang aku keluar mengendarai motor menuju rumah Ayu. Siang ini aku mengajaknya untuk pergi ke kedai es krim La Moda Del Gelato. Kami memasuki pintu beranda kedai dan melirik beberapa varian es krim. Ayu memilih terlebih dahulu, aku tak memilih.

“Sama seperti yang kamu pesan saja.” pintaku.

Beberapa saat es krim kami pun jadi.

“Biarkan kali ini aku yang membayar,” Ayu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang.

“Aku akan menggantinya.” balasku.

“Gak perlu, ini adalah hari yang baik bukan?”

“Ya, hari yang baik,” aku sedikit tersadarkan oleh kalimat itu.

Es krim kami bawa masing-masing. Kami menuju lantai dua. Seperti yang sudah-sudah aku selalu meminta pertemuan di mana aku bisa menyulut rokokku dengan korek. Ayu tak pernah mempermasalahkan asap yang aku timbulkan. Ia tahu betul aku seorang perokok berat. Tersebab Ayu sudah mengetahui kebiasaanku ini sejak lama.

Setibanya di lantai dua, tidak perlu mengawasi di mana bangku yang kosong. Siang itu lantai dua memang sepi, hanya ada aku dan Ayu. Kami memilih bangku di balkon dekat jendela.

“Boleh aku duduk di sisi ini?” pintaku.

Ayu tak menanggapi. Dia masih memandang kursi yang aku pegang.

“Baiklah kalau kamu nggak mau aku duduk di sini” aku hampir meninggalkan kursi yang ingin kupilih itu.

“Hemm... sebenarnya aku mau duduk di situ, view-nya bagus. Tapi, tak apa lah kamu yang duluan pengin.”

“Terima kasih sekali.” kami berdua duduk.

Aku menghadap ke barat ke arah jalan yang ada di depan La Moda Del Gelato. Tidak jauh dari situ, stadion Manahan berdiri megah. Sedangkan Ayu duduk tepat di depanku sambil menikmati es krimnya. Aku pun mengikuti cara yang Ayu gunakan ketika menikmati es krim. Beberapa saat aku masih canggung untuk memulai obrolan. Aku sejenak melamun untuk menunggu Ayu memulai obrolan.

“Bagaimana hari-harimu?” tanyanya seketika.

“Baik, cukup baik. Bisa dilewati seperti hari biasanya. Kamu?”

“Sama sepertimu. Kemarin hari terakhirku ujian tapi berlalu saja.”

“Aku tahu, makanya aku mengajakmu ke sini.”

“Kamu udah pernah ke sini ya?”

“Belum, ini kali pertama aku ke sini”

“Lalu, mengapa kau mengajakku ke sini? Aku pikir kita nggak bakal main jauh sampai sini.”

“Kamu lupa?”

“Lupa?”

“Bukannya dua minggu lalu kamu bilang BM es krim!?” ucapku tegas sambil memastikan.

“Oh, kamu masih mengingatnya. Baguslah, aku pikir kamu lupa, kamu sibuk sekali akhir-akhir ini. Bahkan BM-ku baru bisa dituruti hari ini.” Ayu senyum kecil sambil mengangkat kedua alisnya kemudian melanjutkan menikmati es krim di tangannya.

“Iya, maaf deh” desisiku.

“Terima kasihlah.”

“Hah?”

“Terima kasih, kamu masih mengingatnya terlebih meluangkan waktu di jadwal padatmu.”

“Oh…” aku mengangguk setuju.

“Apa yang ingin kamu bahas siang ini?” tanya Ayu.

“Banyak hal.”

“Aku termasuk ke pembahasanmu?”

“Kamu hal utama.”

“Wow, menarik ya sepertinya.”

Aku tak menghiraukan perkataan itu.

“Apakah menurutmu empat bulan adalah waktu yang cukup atau bahkan kurang?”

“Cukup untuk? Kurang untuk? Apa maksudmu?” Ayu mempertegas ucapannya.

“Kedekatan kita.”

Suasana hening sejenak.

“Coba jelaskan sedetail mungkin, aku tidak paham maksudmu.” Ayu menarik napas panjang. “Aku siap mendengarkannya, terlebih siap dengan keputusanmu soal kedekatan yang kamu maksud, apapun.” sambungnya.

Kedua mata saling menatap. Dan aku memulai bercerita.

***

Kita tak saling berbicara intens cukup lama. Aku tidak tahu kamu sekarang masih sama seperti Ayu yang dulu atau tidak. Apakah kamu berubah setelah mengenal laki-laki itu yang kurang lebih lima tahun lamanya. Kalian menjalin hubungan. Meskipun kamu sempat bercerita pernah putus nyambung dengannya beberapa kali.

Aku tidak pernah menyinggung bagaimana kalian bersama. Bahkan pernah putus nyambung itu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kita juga pernah bersama tanpa ada perasaan, tanpa ada ikatan. Mungkin teman baik, jika aku boleh mengklaimnya.

Kemudian kita berpisah karena pendidikan dan dari situ kamu mengenal laki-laki itu. Lima tahun tanpa sepengetahuan banyak orang. Bahkan teman-teman lama kita yang kutanyakan. Satu pun dari mereka tidak ada yang tahu. Hingga akhirnya aku sendiri yang mengetahuinya belum lama ini.

Aku berhenti sejenak sambil melirik keadaan sekitar.

Sudahlah, hal itu bukan yang menjadi pembahasan panjang siang ini. Bukankah kita harus berdamai dengan masa lalu? Tapi, peristiwa di masa lalu itu mampu mengubah keadaan sekarang. Tak terkecuali perasaan seseorang.

“Oke, sepertinya belum selesai ya?” Ayu menyela.

“Sedikit lagi.”

“Lanjutkan.”

Perkara waktu yang mengubah sesuatu ini, yang akan kubahas dan tanyakan padamu. Kita juga pernah bersama cukup lama. Kemudian berpisah cukup lama, dan kini kita dekat kembali. Empat bulan sesuai perhitunganku kita melakukan hubungan intens. Dalam waktu itu pula kita sering keluar bareng. Apakah kamu merasakan ada yang berbeda dari hubungan kita yang dulu-dulu?

Ayu menarik napas dalam-dalam dan memandangiku serius beberapa detik.

“Baiklah, yang kamu ceritakan barusan tadi benar.”

“Ya, benar karena aku mengatakan sejujur yang aku tahu.” selaku.

“Sekarang giliranku bercerita, ya?” ucap Ayu sambil memastikan.

“Yaa,” aku mengangguk-anggukan kepala.

***

Jadi, yang kamu katakan tadi semuanya benar. Setelah kita berpisah cukup lama karena urusan pendidikan aku memang dekat dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya kami memang menjalin hubungan. Selama lima tahun. Aku memang merahasiakan hubunganku dengan banyak orang bahkan dirimu. Banyak dari teman-teman kita yang mengira aku tidak memiliki hubungan, sama sekali. Hanya ada beberapa orang yang tahu.

Aku menjalin hubungan dengannya. Kemudian LDR di tahun kedua kami berpacaran. Tidak mudah ternyata. Dalam empat tahun LDR sempat dua atau tiga kali kami break. LDR memang membuat kisah kami makin berwarna. Dan memang yang terakhir itu kami benar putus. Dia selingkuh untuk kedua kalinya.

Pada awalnya aku sudah putus asa, namun dia memang pandai merayuku, beberapa kali itu kami balikan. Bahkan untuk yang terakhir kami putus, dia hampir membuatku melakukan kesalahan lagi. Ia meminta balikan. Namun, aku bersyukur itu tidak terjadi karena kamu.

“Karena aku?” Aku menyela tersebab cukup kaget.

“Iya, oleh kamu.”

“Aku melakukan apa emang?”

“Makanya diam dulu, biarkan aku melanjutkan cerita,” tukas Ayu.

“Boleh aku sambil menyebat rokokku?”

“Silakan.”

Aku dan mantanku putus sekira awal tahun ini. Aku sempat tak menyangka kalau hubungan yang berjalan lima tahun akan berakhir. Aku hancur, aku gak tahu harus berbuat apa. Aku sempat menyesal mengapa hubungan kami harus berakhir. Setelah kami putus beberapa bulan tak pernah lagi saling bertukar kabar, apa pun, bahkan beberapa media sosial kami saling blokir. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya selama itu.

Kemudian, di pertengahan tahun melalui temannya, ia mengabari akan pulang. Aku tahu siklus ini sudah terjadi beberapa kali. Ketika kami break, ia pulang dan mengajakku pergi keluar, bisa dipastikan ia meminta agar kami balikan. Dan beberapa kali kami break ia selalu berhasil membujuku, kami balikan. Namun, tidak untuk yang terakhir.

Aku bersyukur, ketika mantanku hampir melakukan siklus yang sama, tepat empat bulan yang lalu kamu tiba-tiba datang meski via pesan WhatsApp saja.

Gak ada angin dan gak ada hujan malam itu kamu mengabari, bayangkan!

Kamu yang gak pernah sekalipun chat aku mendadak menanyakan sesuatu yang membuatku tersadar akan bujukan mantanku. Bahkan pertanyaan yang kamu layangkan malam itu, semacam sinyal bahwa aku tidak pantas mengulangi kesalahan yang sama. Meskipun kamu tidak tahu kondisiku malam itu.

Bahkan dalam pesanmu itu, kau mengakhirinya dengan “akan ada yang datang kepadaku pengganti yang lebih baik”. Aku begitu terperanjat mengapa kamu datang di saat yang tepat kala itu. Pasti kamu tidak mengira ini kan?

Aku tak menjawab, masih cukup tercengang dengan cerita Ayu barusan. Kulanjutkan menghisap rokok yang ada di tangan kiriku.

Kamu bilang empat bulan tadi, ya ini, yang aku rasakan. Kamu datang di saat yang tepat. Di saat mantanku ingin mengajak balikan, mendadak kamu datang semacam memberi sinyal agar aku tak jatuh kesekian kalinya.

Jika kamu bertanya apakah empat bulan adalah waktu yang ideal. Aku tidak tahu maksudmu. Ideal untuk hal apa. Apakah yang kamu maksud itu kedekatan kita semenjak kejadian di malam empat bulan yang lalu hingga sekarang? Atau apa?

Kumatikan rokok dengan meluruhkan ujungnya ke asbak.

“Begini, apakah waktu empat bulan cukup membuatmu berlalu dan beranjak dengan cerita masa lalumu lima tahun itu?” tanyaku.

“Tergantung.”

“Apa?” tanyaku singkat.

“Apa kamu gak merasakannya sendiri, sejauh mana kedekatan kita. Sekarang aku tanya, kamu serius sama aku?”

“Ya, aku serius.”

“Hanya itu saja?” Ayu kembali memastikan.

“Aku mau kita ada hubungan lebih dari teman,”

“Sebentar…” Ayu ketawa kecil. “Kamu jangan langsung tanya itu lah, nanti dulu”

Aku hanya memasang muka heran.

“Coba, kamu bilang pelan-pelan, kamu membuatku tertawa.” sambung Ayu.

“Aku serius, katamu tadi aku serius atau engga, ya ini aku serius”

“Boleh aku bertanya?”

Ayu mau tanya apa lagi sih, pikirku. “Silakan.”

“Apa kamu orang yang bisa menerima kekurangan orang lain, yang kumaksud di sini adalah aku.”

“Selama ini menurutmu aku pernah memaksakan yang tidak kamu bisa?”

“Gak pernah. Kamu tidak keberatatan jika teman-teman lama kita mengetahui hubungan kita ke depannya?”

“Peduli apa mereka, kita yang menjalani.”

“Kita sudah saling dewasa, bukan?”

“Iya, lalu?”

Terdengar suara langkah kaki di tangga menuju lantai dua. Ayu melihat siapa yang datang saat itu. Dua orang wanita dengan es krim di tangan masing-masing berjalan dan memilih bangku tidak jauh dari kami.

Ayu mendekatkan tubuhnya ke meja, mencoba mengatakan sekiranya dua wanita di samping kami tidak sampai mendengar. Ayu sedikit melirihkan ucapannya.

“Jika kamu datang hanya sekadar mencoba, aku tidak bisa. Aku sudah lelah dengan fase-fase itu. Di umur kita yang sekarang bukan lagi main-main. Jika kamu berkehendak meminta hubungan serius denganku kamu juga harus berpikir untuk tahap selanjutnya?” Ayu mengangguk kecil memberikan kode semacam aku harus menyetujuinya.

“Sekarang coba kamu uraikan tujuanmu dan komitmenmu.” sambungnya

“Aku setuju dan sependapat dengan maksud yang kamu sampaikan. Alasan terbesarku memilihmu, aku pikir kita sudah di tahap bukan lagi untuk main-main. Kita pernah menyinggung ini suatu malam, bukan?”

Aku mengambil jeda beberapa detik.

“Jadi, di siang hari yang baik ini apakah kamu mau menerimaku? Maksudku, aku ingin kau jadi kekasihku.”

“Akan aku pegang apa yang telah menjadi komitmenmu.”

Ayu melihatku tajam.

“Dan untuk pertanyaan terakhir, aku jawab: iya aku mau.”