Senin, 20 Juli 2020

Temu Sejawat

Siang tadi hingga sore setibanya. Kami berkumpul hampir komplit setelah sekian lama tidak bersua. Tidak ada kecanggungan di antara kami, rasanya masih sama seperti sebelum perpisahan cukup lama ini. Memang hanya sekadar berkumpul untuk keperluan salah satu proker pengurus. Sederhana, namun kehangatan tercipta di sini.

Lebih menarik lagi selain kehangatan, sedikit berbeda dengan penampilan mereka. Ada yang tambah putih kulitnya atau orang nyebutnya glowing, ada pula yang membiarkan rambutnya gondrong tumbuh tidak seperti biasanya. Ini yang saya bicarakan adalah para lelaki yang ikut berkumpul tadi.

Sementara untuk perempuan nampaknya tidak banyak berubah. Entahlah, saya tidak merasakan perbedaan yang mencolok. Mungkin karena kehangatan dan keasyikan pertemuan tadi sehingga tidak memerhatikan dengan saksama. Yang jelas, pertemuan hari ini tadi mengingatkan akan momen yang pernah terjalin sebelumnya.

Masih ada secercah semangat di mata mereka, semoga baik mereka yang hadir dan belum sempat, bakal menemani hingga selesai perjalanan 2020 ini. Ada suatu kemudahan tatkala enam belas pengurus ini menjalankan prokernya masing-masing. Kapabilitas dalam menjalankannya bahkan kecerobohan acap kali membuat ribang akan kerja sama dalam mengurus sebuah lembaga.

Tak terasa waktu berganti tiap detiknya, satu per satu dari mereka pamit mengundurkan diri dari pertemuan yang terasa singkat ini. Semoga sisa hari di bulan Juli masih menyisakan waktunya untuk kembali bertemu dengan mereka. Kalau kata Pamungkas “Kenagan manis sehari ini, jadi alasan untuk kembali”.

Sebab yang berharga dari pertemuan bukanlah banyak tidaknya tawa yang tercipta, tapi bagaimana pertemuan itu membuat kita senang menjadi diri sendiri.



Rabu, 08 Juli 2020

Jika Kita Bertahan Hingga Akhir Tahun


Sudah empat bulan menurut perhitunganku kita bertahan dengan kondisi saat ini. Selama itu pula, sudah banyak hal yang kita lewatkan. Banyak tentu dari kita merindukan hal-hal yang terlewat begitu saja. Sedikit bahagiaanya--belum lama ini--aku sudah melakukan aktivitas yang aku tunda. Namun banyak juga ternyata hal yang hingga kini belum aku lakukan.

Bagaimana lagi, memang seperti ini kondisi yang memaksa untuk sementara waktu kita "menunda" aktivitas. Aku membenci sebagian besar alternatif yang sudah aku lakukan. Ini semacam formalitas, seperti pengguguran kewajiban. Di sisi lain jika tidak dilakukan hanya menambah beban di akhir. Jadi, aku ambil kesimpulan: semoga ini yang terbaik.

"Semoga ini yang terbaik" adalah kata-kata penenang setalah aku melakukan apapun yang aku sebut dengan formalitas tadi. Sempat berpikir "apakah yang kita lakukan ini baik-baik saja" lebih banyak membuang waktu daripada menghabiskannya. Apakah kita akan terlambat menjalani hidup dari semestinya? Ah aku mana tahu soal ini.

Tetapi kita juga perlu bangga kepada diri sendiri mampu bertahan hingga saat ini. Setidaknya kita mampu bertahan dari rasa bosan di dalam rumah, penatnya menatap layar laptop, bahkan memegang gawai lebih lama daripada istirahat yang cukup. Masih banyak pekerjaan rumah yang menanti. Harapnya tentu tetap kita kerjakan semampu kita.

Yaa, semoga kita mampu dan mau menyelesaikan hingga keadaan benar-benar normal. Jika kita bertahan hingga akhir tahun, apa hal pertama kali yang mau kita lakukan?