Kamis, 23 April 2020

Bertahan di Suatu Momen

Aku tidak tahu mengapa di tahun 2020 ini rasanya begitu berat. Aku berbicara soal kuliah dan organisai yang aku ikuti. Jika melihat tahun kemarin seperti begitu mudah meskipun pada kenyataanya tidak. Pandemi Covid-19 membuatku tidak mereguk kesenangan dalam menjalankan kedua aktifitas wajib ini. Agaknya aku sudah mulai muak dengan keadaan.

Hari demi hari aku jalani dengan firasat mengambang. Suatu waktu sangat semangat namun, lain waktu begitu berat kaki untuk melakukan tugas-tugas. Sering kuhabiskan waktu untuk berselancar di internet dan menatap layar laptop yang kosong karena memang aku sudah buntu. Melihat keadaan sekarang, yang ada tiap hari berpikir "apakah hidup ini sudah tak berguna lagi?"

Ganjil memang, pikiran seperti itu muncul akhir-akhir ini, jancuk. Ah, umpatan itu nampaknya wajar dilontarkan biar plong sedikit beban hidup haha, tertawa sedikit juga boleh. Bukan. Poinnya bukan di situ. Sejauh mana kita bisa bertahan menghadapi semua hingga pada kata seleasai. Tak seorang pun berani menjamin ketabahan menghadapi masalahku ini.

Saat ini aku kehilangan sosok yang biasa menemani hari-hariku sebelum ini. Berusaha menjalin komunikasi tidak lantas bisa mengganti percakapan mulut dengan mulut. Pertemuan dengan mereka begitu penting tapi kini begitu pantang. Kehadiran mereka bisa menguatkan satu sama lain. Mungkin ini yang aku rindukan. Bertemu dan bercengkerama dengan mereka.


There's something you don't understand, though many times you to learning.

unsplash

Rabu, 08 April 2020

Masih Namamu

Selalu dirimu jadi alasanku menulis, kurangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, bait demi bait sahut menyahut segala hal tentangmu. Bahkan aku sendiri tidak pernah lagi bisa mengingat dan menghitung seberapa sering aku menyebutkan nama indah itu. Aku pikir ini tidak benar, tapi buktinya kian hari tidak ada satu pun nama perempuan lain yang melintas. Kau boleh saja risih hingga merasa terganggu, wajar, itu karena aku begitu radikal mencintaimu.

                Mungkin juga ini keliru yang terlampau jauh. Mencintaimu dengan alasan sederhana karena aku menyukai nama ayumu. Aku sadar ada hal lain sebenarnya yang dapat mengalihkanmu agar hati ini tidak mencari-cari namamu. Tapi untuk apa? Kita hanya hidup sekali jagan cari yang tidak pasti. Ya, meski aku tahu kamu belum tentu bisa kugapai. Sedang, untuk apa selama ini aku mengerjakan hal yang orang lain menganggapnya kesia-saian. Aku tidak peduli anggapan orang-orang.

                Aku sudah begitu terombang-ambing jauh karena hilangnya sauh. Terluka tak dapat lagi berbuat apa-apa. Bahkan yang tersisa sekarang hanyalah doa. Berharap ditemukan olehmu dan dirawat hingga pulih karena ternyata selama ini sudah teramat pedih. Percayalah hingga kalimat terakhir tulisan ini masih namamu yang membuatku merasa puitis menuliskan puisi.
From: visual