Selalu
dirimu jadi alasanku menulis, kurangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, bait
demi bait sahut menyahut segala hal tentangmu. Bahkan aku sendiri tidak pernah
lagi bisa mengingat dan menghitung seberapa sering aku menyebutkan nama indah
itu. Aku pikir ini tidak benar, tapi buktinya kian hari tidak ada satu pun nama
perempuan lain yang melintas. Kau boleh saja risih hingga merasa terganggu,
wajar, itu karena aku begitu radikal mencintaimu.
Mungkin juga ini keliru yang
terlampau jauh. Mencintaimu dengan alasan sederhana karena aku menyukai nama
ayumu. Aku sadar ada hal lain sebenarnya yang dapat mengalihkanmu agar hati ini
tidak mencari-cari namamu. Tapi untuk apa? Kita hanya hidup sekali jagan cari
yang tidak pasti. Ya, meski aku tahu kamu belum tentu bisa kugapai. Sedang,
untuk apa selama ini aku mengerjakan hal yang orang lain menganggapnya
kesia-saian. Aku tidak peduli anggapan orang-orang.
Aku sudah begitu
terombang-ambing jauh karena hilangnya sauh. Terluka tak dapat lagi berbuat
apa-apa. Bahkan yang tersisa sekarang hanyalah doa. Berharap ditemukan olehmu
dan dirawat hingga pulih karena ternyata selama ini sudah teramat pedih.
Percayalah hingga kalimat terakhir tulisan ini masih namamu yang membuatku merasa
puitis menuliskan puisi.

0 komentar:
Posting Komentar