Di Desember yang mendung itu jarang kusaksikan matahari akan perlahan menghilang seperti di tiap sore di musim kemarau. Namun, hari itu aku beruntung karena mendapatkan hari yang cukup cerah, cukup terik. Hari yang baik! Akan ada agenda besar yang harus aku tuntaskan di penghujung tahun ini. Setidaknya, tahun yang tidak begitu bagus ini harus kuakhiri dengan hal bahagia.
Jarum
pendek menunjuk angka sepuluh, aku yang sudah bangun setengah jam yang lalu
bergegas ke kamar mandi. Cukup lama aku di dalam, membayangkan hal bahagia kudapatkan
hari ini.
Kuangkat
handuk, mengeringkan tubuh dan rambutku, mengambil flannel dan menyeprotnya dengan parfum cukup banyak di setiap bilangan
baju. Di atas Kasur layar hpku menyala, sebuah pesan masuk bertuliskan “Jangan
lupa agenda hari ini, aku tunggu sesuai kesepakatan kemarin”.
Sekira
jam 1 siang aku keluar mengendarai motor menuju rumah Ayu. Siang ini aku
mengajaknya untuk pergi ke kedai es krim La Moda Del Gelato. Kami memasuki pintu
beranda kedai dan melirik beberapa varian es krim. Ayu memilih terlebih dahulu,
aku tak memilih.
“Sama
seperti yang kamu pesan saja.” pintaku.
Beberapa
saat es krim kami pun jadi.
“Biarkan
kali ini aku yang membayar,” Ayu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa
lembar uang.
“Aku
akan menggantinya.” balasku.
“Gak
perlu, ini adalah hari yang baik bukan?”
“Ya,
hari yang baik,” aku sedikit tersadarkan oleh kalimat itu.
Es
krim kami bawa masing-masing. Kami menuju lantai dua. Seperti yang sudah-sudah
aku selalu meminta pertemuan di mana aku bisa menyulut rokokku dengan korek.
Ayu tak pernah mempermasalahkan asap yang aku timbulkan. Ia tahu betul aku
seorang perokok berat. Tersebab Ayu sudah mengetahui kebiasaanku ini sejak
lama.
Setibanya
di lantai dua, tidak perlu mengawasi di mana bangku yang kosong. Siang itu
lantai dua memang sepi, hanya ada aku dan Ayu. Kami memilih bangku di balkon
dekat jendela.
“Boleh
aku duduk di sisi ini?” pintaku.
Ayu
tak menanggapi. Dia masih memandang kursi yang aku pegang.
“Baiklah
kalau kamu nggak mau aku duduk di sini” aku hampir meninggalkan kursi yang
ingin kupilih itu.
“Hemm...
sebenarnya aku mau duduk di situ, view-nya
bagus. Tapi, tak apa lah kamu yang duluan pengin.”
“Terima
kasih sekali.” kami berdua duduk.
Aku
menghadap ke barat ke arah jalan yang ada di depan La Moda Del Gelato. Tidak
jauh dari situ, stadion Manahan berdiri megah. Sedangkan Ayu duduk tepat di
depanku sambil menikmati es krimnya. Aku pun mengikuti cara yang Ayu gunakan ketika
menikmati es krim. Beberapa saat aku masih canggung untuk memulai obrolan. Aku
sejenak melamun untuk menunggu Ayu memulai obrolan.
“Bagaimana
hari-harimu?” tanyanya seketika.
“Baik,
cukup baik. Bisa dilewati seperti hari biasanya. Kamu?”
“Sama
sepertimu. Kemarin hari terakhirku ujian tapi berlalu saja.”
“Aku
tahu, makanya aku mengajakmu ke sini.”
“Kamu udah pernah ke sini ya?”
“Belum,
ini kali pertama aku ke sini”
“Lalu,
mengapa kau mengajakku ke sini? Aku pikir kita nggak bakal main jauh sampai
sini.”
“Kamu
lupa?”
“Lupa?”
“Bukannya
dua minggu lalu kamu bilang BM es krim!?” ucapku tegas sambil memastikan.
“Oh,
kamu masih mengingatnya. Baguslah, aku pikir kamu lupa, kamu sibuk sekali
akhir-akhir ini. Bahkan BM-ku baru bisa dituruti hari ini.” Ayu senyum kecil
sambil mengangkat kedua alisnya kemudian melanjutkan menikmati es krim di
tangannya.
“Iya,
maaf deh” desisiku.
“Terima
kasihlah.”
“Hah?”
“Terima
kasih, kamu masih mengingatnya terlebih meluangkan waktu di jadwal padatmu.”
“Oh…”
aku mengangguk setuju.
“Apa
yang ingin kamu bahas siang ini?” tanya Ayu.
“Banyak
hal.”
“Aku
termasuk ke pembahasanmu?”
“Kamu
hal utama.”
“Wow,
menarik ya sepertinya.”
Aku
tak menghiraukan perkataan itu.
“Apakah
menurutmu empat bulan adalah waktu yang cukup atau bahkan kurang?”
“Cukup
untuk? Kurang untuk? Apa maksudmu?” Ayu mempertegas ucapannya.
“Kedekatan
kita.”
Suasana
hening sejenak.
“Coba
jelaskan sedetail mungkin, aku tidak paham maksudmu.” Ayu menarik napas
panjang. “Aku siap mendengarkannya, terlebih siap dengan keputusanmu soal
kedekatan yang kamu maksud, apapun.” sambungnya.
Kedua
mata saling menatap. Dan aku memulai bercerita.
***
Kita
tak saling berbicara intens cukup lama. Aku tidak tahu kamu sekarang masih sama
seperti Ayu yang dulu atau tidak. Apakah kamu berubah setelah mengenal
laki-laki itu yang kurang lebih lima tahun lamanya. Kalian menjalin hubungan.
Meskipun kamu sempat bercerita pernah putus nyambung dengannya beberapa kali.
Aku
tidak pernah menyinggung bagaimana kalian bersama. Bahkan pernah putus nyambung
itu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kita juga pernah bersama tanpa ada
perasaan, tanpa ada ikatan. Mungkin teman baik, jika aku boleh mengklaimnya.
Kemudian
kita berpisah karena pendidikan dan dari situ kamu mengenal laki-laki itu. Lima
tahun tanpa sepengetahuan banyak orang. Bahkan teman-teman lama kita yang
kutanyakan. Satu pun dari mereka tidak ada yang tahu. Hingga akhirnya aku
sendiri yang mengetahuinya belum lama ini.
Aku
berhenti sejenak sambil melirik keadaan sekitar.
Sudahlah,
hal itu bukan yang menjadi pembahasan panjang siang ini. Bukankah kita harus
berdamai dengan masa lalu? Tapi, peristiwa di masa lalu itu mampu mengubah
keadaan sekarang. Tak terkecuali perasaan seseorang.
“Oke,
sepertinya belum selesai ya?” Ayu menyela.
“Sedikit
lagi.”
“Lanjutkan.”
Perkara
waktu yang mengubah sesuatu ini, yang akan kubahas dan tanyakan padamu. Kita
juga pernah bersama cukup lama. Kemudian berpisah cukup lama, dan kini kita
dekat kembali. Empat bulan sesuai perhitunganku kita melakukan hubungan intens.
Dalam waktu itu pula kita sering keluar bareng. Apakah kamu merasakan ada yang
berbeda dari hubungan kita yang dulu-dulu?
Ayu
menarik napas dalam-dalam dan memandangiku serius beberapa detik.
“Baiklah,
yang kamu ceritakan barusan tadi benar.”
“Ya,
benar karena aku mengatakan sejujur yang aku tahu.” selaku.
“Sekarang
giliranku bercerita, ya?” ucap Ayu sambil memastikan.
“Yaa,”
aku mengangguk-anggukan kepala.
***
Jadi,
yang kamu katakan tadi semuanya benar. Setelah kita berpisah cukup lama karena
urusan pendidikan aku memang dekat dengan seorang laki-laki. Lebih tepatnya
kami memang menjalin hubungan. Selama lima tahun. Aku memang merahasiakan
hubunganku dengan banyak orang bahkan dirimu. Banyak dari teman-teman kita yang
mengira aku tidak memiliki hubungan, sama sekali. Hanya ada beberapa orang yang
tahu.
Aku
menjalin hubungan dengannya. Kemudian LDR di tahun kedua kami berpacaran. Tidak
mudah ternyata. Dalam empat tahun LDR sempat dua atau tiga kali kami break. LDR memang membuat kisah kami
makin berwarna. Dan memang yang terakhir itu kami benar putus. Dia selingkuh
untuk kedua kalinya.
Pada
awalnya aku sudah putus asa, namun dia memang pandai merayuku, beberapa kali
itu kami balikan. Bahkan untuk yang terakhir kami putus, dia hampir membuatku
melakukan kesalahan lagi. Ia meminta balikan. Namun, aku bersyukur itu tidak
terjadi karena kamu.
“Karena
aku?” Aku menyela tersebab cukup kaget.
“Iya,
oleh kamu.”
“Aku
melakukan apa emang?”
“Makanya
diam dulu, biarkan aku melanjutkan cerita,” tukas Ayu.
“Boleh
aku sambil menyebat rokokku?”
“Silakan.”
Aku
dan mantanku putus sekira awal tahun ini. Aku sempat tak menyangka kalau
hubungan yang berjalan lima tahun akan berakhir. Aku hancur, aku gak tahu harus
berbuat apa. Aku sempat menyesal mengapa hubungan kami harus berakhir. Setelah
kami putus beberapa bulan tak pernah lagi saling bertukar kabar, apa pun,
bahkan beberapa media sosial kami saling blokir. Aku tidak tahu bagaimana
kabarnya selama itu.
Kemudian,
di pertengahan tahun melalui temannya, ia mengabari akan pulang. Aku tahu
siklus ini sudah terjadi beberapa kali. Ketika kami break, ia pulang dan mengajakku pergi keluar, bisa dipastikan ia
meminta agar kami balikan. Dan beberapa kali kami break ia selalu berhasil membujuku, kami balikan. Namun, tidak
untuk yang terakhir.
Aku
bersyukur, ketika mantanku hampir melakukan siklus yang sama, tepat empat bulan
yang lalu kamu tiba-tiba datang meski via pesan WhatsApp saja.
Gak ada angin dan gak ada hujan malam itu
kamu mengabari, bayangkan!
Kamu yang gak pernah sekalipun chat aku
mendadak menanyakan sesuatu yang membuatku tersadar akan bujukan mantanku. Bahkan
pertanyaan yang kamu layangkan malam itu, semacam sinyal bahwa aku tidak pantas
mengulangi kesalahan yang sama. Meskipun kamu tidak tahu kondisiku malam itu.
Bahkan dalam pesanmu itu, kau
mengakhirinya dengan “akan ada yang datang kepadaku pengganti yang lebih baik”.
Aku begitu terperanjat mengapa kamu datang di saat yang tepat kala itu. Pasti
kamu tidak mengira ini kan?
Aku
tak menjawab, masih cukup tercengang dengan cerita Ayu barusan. Kulanjutkan
menghisap rokok yang ada di tangan kiriku.
Kamu
bilang empat bulan tadi, ya ini, yang aku rasakan. Kamu datang di saat yang
tepat. Di saat mantanku ingin mengajak balikan, mendadak kamu datang semacam
memberi sinyal agar aku tak jatuh kesekian kalinya.
Jika
kamu bertanya apakah empat bulan adalah waktu yang ideal. Aku tidak tahu
maksudmu. Ideal untuk hal apa. Apakah yang kamu maksud itu kedekatan kita
semenjak kejadian di malam empat bulan yang lalu hingga sekarang? Atau apa?
Kumatikan
rokok dengan meluruhkan ujungnya ke asbak.
“Begini,
apakah waktu empat bulan cukup membuatmu berlalu dan beranjak dengan cerita
masa lalumu lima tahun itu?” tanyaku.
“Tergantung.”
“Apa?”
tanyaku singkat.
“Apa
kamu gak merasakannya sendiri, sejauh mana kedekatan kita. Sekarang aku tanya,
kamu serius sama aku?”
“Ya,
aku serius.”
“Hanya
itu saja?” Ayu kembali memastikan.
“Aku
mau kita ada hubungan lebih dari teman,”
“Sebentar…”
Ayu ketawa kecil. “Kamu jangan langsung tanya itu lah, nanti dulu”
Aku
hanya memasang muka heran.
“Coba,
kamu bilang pelan-pelan, kamu membuatku tertawa.” sambung Ayu.
“Aku
serius, katamu tadi aku serius atau engga, ya ini aku serius”
“Boleh
aku bertanya?”
Ayu
mau tanya apa lagi sih, pikirku. “Silakan.”
“Apa
kamu orang yang bisa menerima kekurangan orang lain, yang kumaksud di sini
adalah aku.”
“Selama
ini menurutmu aku pernah memaksakan yang tidak kamu bisa?”
“Gak
pernah. Kamu tidak keberatatan jika teman-teman lama kita mengetahui hubungan
kita ke depannya?”
“Peduli
apa mereka, kita yang menjalani.”
“Kita
sudah saling dewasa, bukan?”
“Iya,
lalu?”
Terdengar
suara langkah kaki di tangga menuju lantai dua. Ayu melihat siapa yang datang
saat itu. Dua orang wanita dengan es krim di tangan masing-masing berjalan dan
memilih bangku tidak jauh dari kami.
Ayu
mendekatkan tubuhnya ke meja, mencoba mengatakan sekiranya dua wanita di
samping kami tidak sampai mendengar. Ayu sedikit melirihkan ucapannya.
“Jika
kamu datang hanya sekadar mencoba, aku tidak bisa. Aku sudah lelah dengan
fase-fase itu. Di umur kita yang sekarang bukan lagi main-main. Jika kamu berkehendak
meminta hubungan serius denganku kamu juga harus berpikir untuk tahap
selanjutnya?” Ayu mengangguk kecil memberikan kode semacam aku harus
menyetujuinya.
“Sekarang
coba kamu uraikan tujuanmu dan komitmenmu.” sambungnya
“Aku
setuju dan sependapat dengan maksud yang kamu sampaikan. Alasan terbesarku
memilihmu, aku pikir kita sudah di tahap bukan lagi untuk main-main. Kita
pernah menyinggung ini suatu malam, bukan?”
Aku
mengambil jeda beberapa detik.
“Jadi,
di siang hari yang baik ini apakah kamu mau menerimaku? Maksudku, aku ingin kau
jadi kekasihku.”
“Akan
aku pegang apa yang telah menjadi komitmenmu.”
Ayu
melihatku tajam.
“Dan untuk pertanyaan terakhir, aku
jawab: iya aku mau.”
0 komentar:
Posting Komentar