Rabu, 30 September 2020

Begitulah

Jarak rumahku dengan surau sebenarnya tidak terlampau jauh. Tapi aku selalu menaiki sepada untuk pergi ke surau ini. Selepas salat maghrib saat kukayuh sepeda dan kusampirkan sarung di leher aku teringat kenangan semasa smp. Kenangan tentang salat juga.

Tahun 2013 tepatnya, waktu itu aku duduk di bangku kelas 9. Sekolahku memberikan jam istirahat kedua pukul 11.30 dan sudah barang tentu siswa laki-laki wajib ikut salat jemaah di masjid yang berada di koridor timur sekolah atau masjid Bazis yang ada di koridor barat sekolah.

Khusus kelas 9, kami diperbolehkan salat di masjid sekolah karena jaraknya yang dekat dengan kelas-kelas 9 juga daya tampung hanya mampu satu angkatan (kelas 9). Sementara kelas 7 dan 8 ditempatkan di masjid Bazis di koridor barat.

Namun agaknya masjid yang dimiliki smp, yang jaraknya hanya 15 meter dari kelasku ini tidak mendapatkan minat dari aku dan teman-teman kelasku untuk menunaikan salat zuhur. Aku dan lima belas temanku lebih memilih menambah langkah kaki untuk pergi ke masjid samping smp di sebelah kelas 7.

Padahal sekolah kami memiliki lahan yang cukup luas. Sekira 150 meter dari kelasku jarak masjid Bazis ini. Jadi, setiap salat zuhur kami 10 kali lipat jalan kaki dari kelas menuju masjid di samping smp dan itu kita lakukan saban hari. Yang menarik ialah perjalanan 150 meter ini. Lahan yang cukup luas membuat kami selalu mengganti rute di tiap siangnya.

Bahkan antara berangkat dan pulang kami tidak pernah melewati lintasan yang sama. Aku juga sempat bingung, mengapa? Tapi kata temanku yang selalu berada di ujung barisan kami mengatakan “Biar kita bisa silaturahmi dengan beda orang di setiap jalan Jik!” ungkapnya. Aku tidak menyangkal atau bertanya lebih, aku pikir pada saat itu jawaban ini benar dan menohok sekali!1!1!

Di hari selanjutnya saat berjalan ke masjid temanku yang lain menepuk pundakku, sambil berkata “Ah sudahlah jangan dipikirkan, kamu juga menikmati perjalanan ini kan? Cuman geng kelas kita yang melakukan ini”. Memang benar dari delapan kelas 9 cuman laki-laki kelasku yang memilih untuk sembahyang ke masjid yang lebih jauh.

Tidak hanya itu, karena jarak yang cukup jauh sering kali aku dan teman-temanku ini terlambat masuk kelas di jam terakhir. Lebih tepatnya menambah waktu istirahat sepulang dari masjid. Selalu ada saja temanku yang mengatakan kalimat “Nelat wae Cah! gurune nyantai iki”.

Nongkrong nang cerak wit rambutan wae karo ngadem” tambahnya.

“Cocokkk” sahut teman-temanku berbarengan.

Teman yang lain nyeletuk “Mengko nek telat gari ngomong 'salat neng Masjid Bazis, Pak, mulane telat'

Kami semua tertawa.

Jika diamati lebih lanjut, sebenarnya banyak sekali alasan yang mendasari kami lebih memilih untuk salat di masjid Bazis selain hal yang disebutkan tadi. Alasan lainnya itu seperti: tebar pesona dengan adek kelas, curi pandang dengan gebetan, jajan di kantin kelas 7, dan masih banyak lagi alasan yang pastinya di luar nalar nan ngawur.

Tapi semua itu, ya begitulah, jika diingat lagi kenangan ini ingin rasanya bernostalgia lagi dan lagi. Begitulah teman-temanku, sebagian kecil cerita singkat di antara waktu istirahat sampai masuk kelas kembali, waktu yang diijabah untuk beralasan telat.

 

0 komentar:

Posting Komentar