Minggu, 29 September 2019

Perlawanan Mahasiswa




Aku tak sempat menjawab notifikasi yang muncul di layar gawaiku
23 September, seruan revolusi reformasi hilir mudik mengabari
“Ambillah tawaran ini kawanku, kosongkan kelas, besok kita turun ke jalan Adi Sucipto,
Kapan lagi mahasiswa angkat bicara? Siapkan bahumu kita gabung aliansi mahasiswa bersatu”
Pundakku lemas semua bayangan domonstrasi kelabu mengabut hitam di pikiranku
Namun teman-temanku besok beranikan diri pasang badan demi dedikasi pengamalan Tridarma
perguruan tinggi.

“Kita ini menjadi harapan masyarakat di luar sana, angkat dagumu perlihatkanlah wajah kepeduilanmu,
Kita tidak sendiri, besok akan ada massa satu komando, satu tujuan, dan memanggul harapan”
Satu lagi notifikasi masuk, namun lagi pundakku kini terasa tak bertulang.
Lemas, bingung, bikin limbung tak bergoyang
Dalam pikirku akankah aku diam melihat teman-temanku berjuang untuk satu tujuan, keadilan?
Sementara di sini aku berdiam diri tak pasti, merelakan mereka berjuang mandiri.

Aksi di depan gedung DPRD besok butuh banyak massa
“Tapi, aku ini siapa?” mahasiswa yang katanya kaum intelek, kaum bestari
Malu aku dengan poster Bung Karno di dinding kamar indekosku
Akankah wajahku ditampar keras, mahasiswa dengan nyali tak tegas
Berlalu, berpikir keras, jiwa solidaritas harus kujunjung ke atas
tak mungkin aku hanya menyaksiakan perjuangan mereka yang ikhlas.

Ku angkat gawaiku, kucari nomor ibuku tuk meminta restu
“Ibu, anakmu ingin mengatakan sesuatu, aku ingin membantu teman-temanku hari selasa besok ibu.
Ibu pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan mahasiswa, izinkanlah dan berikan restu.”


2.
Seorang teman mahasiswa bertanya “Adakah cukup nyalimu untuk aksi hari ini?”
Tertegun dan terdiam sejenak, kemudian dengan lantang aku berkata:
“Semalam aku berbicara dengan cermin usangku, kota ini memiliki mahasiswa yang peduli dengan tanah lahirnya dan aku salah satunya”
“Bagus” katanya.

Aku juga tak lupa, membawa poster bertuliskan kritik jenaka yang kubuat malam sebelumnya
Penuh hikmat kuikuti serangkaian upacara menyambut aksi nyata mahasiswa.

“Kita tak segera mati di jalan ini, tapi maut mengintai di depan sana, mungkin kita akan bertengkar ihwal setor nama siapa yang harus dituliskan di batu nisan, setelah orasi dibacakan sebelum perlawanan dibungkam, reformasi dikorupsi!”

Cinta pasti juga akan datang di jalan ini, dan kita bersatu atas nama cinta, manusia mana yang akan kita selamatkan, teman!
Biarkan tuntutan dihargai dan apapun yang terjadi asalkan keselamatan menyertai
Mahasiswa memilki ambisi menyelamatkan negeri, jangan biarkan hidup birokrasi yang represif
Bangun dan bantulah kawanmu sebagai mahasisa progresif, dengan turun ke jalan sebagai alternatif

Kita tak segera mati di jalan ini kawan, kita kuburkan peraturan-peratuan yang sewenang-wenang
Lawan! Hidup mahasiswa, panjang umur perlawanan.
Lokasi: Surakarta, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar