
Aku tak sempat menjawab notifikasi yang muncul di layar gawaiku
23 September, seruan revolusi reformasi hilir mudik mengabari
“Ambillah tawaran ini kawanku, kosongkan kelas, besok kita
turun ke jalan Adi Sucipto,
Kapan lagi mahasiswa angkat bicara? Siapkan bahumu kita
gabung aliansi mahasiswa bersatu”
Pundakku lemas semua bayangan domonstrasi kelabu mengabut
hitam di pikiranku
Namun teman-temanku besok beranikan diri pasang badan demi
dedikasi pengamalan Tridarma
perguruan tinggi.
“Kita ini menjadi harapan masyarakat di luar sana, angkat
dagumu perlihatkanlah wajah kepeduilanmu,
Kita tidak sendiri, besok akan ada massa satu komando, satu
tujuan, dan memanggul harapan”
Satu lagi notifikasi masuk, namun lagi pundakku kini terasa
tak bertulang.
Lemas, bingung, bikin limbung tak bergoyang
Dalam pikirku akankah aku diam melihat teman-temanku
berjuang untuk satu tujuan, keadilan?
Sementara di sini aku berdiam diri tak pasti, merelakan
mereka berjuang mandiri.
Aksi di depan gedung DPRD besok butuh banyak massa
“Tapi, aku ini siapa?” mahasiswa yang katanya kaum intelek,
kaum bestari
Malu aku dengan poster Bung Karno di dinding kamar indekosku
Akankah wajahku ditampar keras, mahasiswa dengan nyali tak
tegas
Berlalu, berpikir keras, jiwa solidaritas harus kujunjung ke
atas
tak mungkin aku hanya menyaksiakan perjuangan mereka yang
ikhlas.
Ku angkat gawaiku, kucari nomor ibuku tuk meminta restu
“Ibu, anakmu ingin mengatakan sesuatu, aku ingin membantu
teman-temanku hari selasa besok ibu.
Ibu pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan mahasiswa,
izinkanlah dan berikan restu.”
2.
Seorang teman mahasiswa bertanya “Adakah cukup nyalimu untuk
aksi hari ini?”
Tertegun dan terdiam sejenak, kemudian dengan lantang aku
berkata:
“Semalam aku berbicara dengan cermin usangku, kota ini
memiliki mahasiswa yang peduli dengan tanah lahirnya dan aku salah satunya”
“Bagus” katanya.
Aku juga tak lupa, membawa poster bertuliskan kritik jenaka
yang kubuat malam sebelumnya
Penuh hikmat kuikuti serangkaian upacara menyambut aksi nyata
mahasiswa.
“Kita tak segera mati di jalan ini, tapi maut mengintai di depan sana, mungkin kita akan bertengkar ihwal setor nama siapa yang harus dituliskan di batu nisan, setelah orasi dibacakan sebelum perlawanan dibungkam, reformasi dikorupsi!”
“Kita tak segera mati di jalan ini, tapi maut mengintai di depan sana, mungkin kita akan bertengkar ihwal setor nama siapa yang harus dituliskan di batu nisan, setelah orasi dibacakan sebelum perlawanan dibungkam, reformasi dikorupsi!”
Cinta pasti juga akan datang di jalan ini, dan kita bersatu atas
nama cinta, manusia mana yang akan kita selamatkan, teman!
Biarkan tuntutan dihargai dan apapun yang terjadi asalkan
keselamatan menyertai
Mahasiswa memilki ambisi menyelamatkan negeri, jangan
biarkan hidup birokrasi yang represif
Bangun dan bantulah kawanmu sebagai mahasisa progresif,
dengan turun ke jalan sebagai alternatif
Kita tak segera mati di jalan ini kawan, kita kuburkan
peraturan-peratuan yang sewenang-wenang
Lawan! Hidup mahasiswa, panjang umur perlawanan.
0 komentar:
Posting Komentar