Memaafkan diri sendiri untuk waktu yang sia-sia terlewati. Menepikan badan, istriahat sejenak. Mengingat-ingat semua yang terlewati, masa-masa saat semua orang masih di sisi. Memegang erat, mendekap rapat, semua tampak ambivalen menyenangkan juga menyedihkan.
Entah mengapa air mata turun dengan sendirinya. Melewati pipi, jatuh ke lantai tanpa ragu. Lesung basah mata merah. Ingin mengatakan "Aku mencintai tanpa ransi". Bukan, bukan seperti ini. Lebih baik tidak saja.
Cukup, berderai
Membunuh jiwa tanpa perlindungan perisai.

0 komentar:
Posting Komentar