Kau mulai menjelma menjadi seseorang yang paling bahagia. Kehadiranmu selalu kudamba tapi kita ini manusia sibuk. Kau sibuk dengan kuliahmu aku sibuk memikirkanmu. Meskipun begitu ada kabar baiknya. Kita sepakat dengan adanya akhir pekan, kau dan aku sempatkan menggelar perjumpaan.
Perjanjian selalu menjadi kegiatan sakral. Bagaimana tidak, perjanjian begitu erat dengan pengkhianatan. Sejak awal, dari kita sadar memutuskan untuk membatalkan adalah hal tabu. Hal itu juga yang mendasari entah berapa puluh kali kita bertemu.
Namun beberapa minggu kita sudah tidak bertemu. Bahkan untuk membuat perjanjian, begitu sulit, begitu rumit.
Memang benar kau sudah memberikan alasan ihwal kesibukanmu melalui pesan. Mungkinkah aku lelaki lemah? Tidak, aku mempersilakan dan mendukungmu penuh.

0 komentar:
Posting Komentar